Suami Tuduh Istri Selingkuh

0
124

.Dear Ghiboo, suami saya (50 thn) sudah beberapa bulan ini bertingkah laku yang tidak biasa. Hampir setiap hari menelpon saya saat saya di kantor. Ia sering mengeluh dan menuduh saya tidak setia. Waktu dulu masih pacaran dia memang cemburuan, tetapi masa sih sudah belasan tahun kami menikah belum juga percaya pada saya. Dia juga bilang saya tidak benar-benar mencintainya dan akan bisa kapan saja meninggalkan dia. Padahal sungguh mati, Bu, saya tidak pernah berpikir begitu. Kadang dia menelpon minta saya doakan dia supaya tenang, karena katanya tiba-tiba dia ingat sikap saya dan dalam hatinya timbul marah lagi.
Suami saya juga suka menuduh saya sombong karena karir saya di kantor menanjak terus sedangkan usahanya dia tidak maju-maju. Padahal saya tidak pernah merendahkan dia. Yah, kadang saya terpancing marah juga dan pernah juga bilang tidak tahan hidup sama dia dan siap bercerai. Tapi saya tidak benar-benar mau bercerai Bu. Apa sih yang suami saya alami, Bu? Apa ada gejala gangguan kejiwaan?
 
Rika
Banten

Ibu Rika, menghadapi sikap  suami yang seperti Ibu  ceritakan, menurut saya wajar jika Ibu merasa terganggu. Apalagi di kantor Ibu tentunya membu-tuhkan konsentrasi dalam bekerja. Meskipun begitu, perubahan sikap suami sudah pasti bukan tanpa sebab. Dalam tulisan yang terbatas ini dan dengan informasi yang terbatas pula saya hanya bisa menduga-duga apa yang terjadi dengan suami Ibu. Sebelumnya saya membahas lebih lanjut ada beberapa hal yang Ibu tidak ceritakan, misalnya apa saja yang sudah Ibu lakukan untuk meresponi sikap-sikap suami di atas (selain terpancing marah)? Apakah ada kejadian tertentu yang memicu suami kembali menjadi pencemburu seperti saat masih pacaran?
Kalau melihat dari gejala-gejala yang suami Ibu tunjukkan, tampaknya ada beberapa hal yang mungkin terjadi padanya:
1. Suami Ibu yang ada dalam usia paruh baya dengan pekerjaan  yang rupanya kurang ada kemajuan, apalagi dibandingkan dengan karir Ibu, keadaan ini dapat membuat seorang suami terancam self-esteem-nya (penghargaan terhadap diri sendiri). Dengan kata lain, suami merasa kurang berharga sebagai kepala keluarga yang berperan pencari nafkah. Hal ini bisa membuat suami menjadi uring-uringan, terutama jika ia tidak menemukan jalan keluar yang tepat dan penyaluran yang sehat. Sebagian suami, sayangnya, tidak mau menerima kenyataan bahwa mungkin saja memang mereka yang kurang mampu mengembangkan karir/pekerjaan. Jadi daripada mengakui hal itu mereka malah mencari-cari kesalahan isteri, bahkan mungkin kesalahan yang dulu-dulu diungkit-ungkit lagi.
2. Menurut Erikson (ahli psikologi) bahwa orang yang ada dalam usia seperti suami Ibu ada dalam tahap generativity atau stagnation. Jika pada masa-masa sebelumnya orang tsb dapat melewatinya dengan baik maka hidupnya akan dibangun dengan sehat dan di masa ini dia sudah siap ?berbuah?, misalnya mempunyai hubungan yang semakin dalam dengan Tuhan, punya kesadaran diri yang semakin baik, menyadari dan menerima karunia/potensi yang Tuhan berikan dan mengembangkannya untuk kemudian menjadi saluran berkat bagi orang lain (selain bagi keluarga).
Tetapi jika yang terjadi sebaliknya, maka orang tsb masuk pada tahap stagnasi/ mandeg. Di sini orang tsb mengalami hambatan dalam mengembangkan diri, tertekan ketika menyadari dirinya tidak maju-maju dan cenderung meminta orang lain yang memenuhi kebutuhannya. Apalagi jika sebelumnya hubungan dengan Tuhan Yesus juga tidak dibangun maka orang tsb semakin merasa hidupnya kosong dan kurang berarti.
3. Suami Ibu mungkin juga mengalami serangan kecemasan akibat dari tekanan-tekanan hidup yang ia rasakan berat dan juga karena ia sendiri  mengembangkan pikiran-pikiran yang negatif dan pesimis. Itu sebabnya ia bisa tiba-tiba merasa ada dorongan kemarahan, gelisah, khawatir, curiga, dll, yang kemudian membuat dia perlu segera menelpon Ibu minta didoakan supaya dia kembali tenang. (Gejala ini belum tentu merupakan psikotik atau gangguan kejiwaan. Jika Ibu ingin benar-benar jelas mengenai hal itu, Ibu bisa konsultasi pada psikiater).
Tampaknya Ibu kurang menyadari dan kurang memahami sepenuhnya pergumulan suami sehingga Ibu cenderung bersikap membela diri. Dalam hal ini saya bisa mengerti karena suami sendiri rupanya juga lebih banyak bersikap ?menyerang?, padahal di balik ?serangan? tsb ada kebutuhannya yang tidak terpenuhi yang ia berharap dipenuhi oleh Ibu. Karena tidak setiap orang mampu menyatakan kebutuhannya dengan cara baik-baik dan jelas pada orang lain/pasangannya, sehingga akibatnya pasangan juga tidak selalu mampu menangkap apa sebenarnya kebutuhannya.
Saya tidak tahu bagaimana kedekatan/intimacy hubungan Ibu dengan suami. Menurut saya untuk menghadapi masalah ini pertama-tama perlunya Ibu mengevaluasi kembali bagaimana hubungan Ibu dengan suami. Apakah kesibukan Ibu di kantor terlalu menyita waktu sehingga waktu berdua saja dengan suami menjadi sangat kurang dan mempengaruhi kedekatan? Apakah sikap Ibu selama ini sudah benar-benar menunjukkan penghargaan pada suami meskipun keadaan pekerjaannya yang kurang berhasil? Apakah ada persekutuan bersama antara Ibu, suami dan Tuhan?
Kemudian Ibu juga bisa mulai memperbaiki komunikasi dengan suami. Karena sikap ?menyerang? dan ?membela diri? atau juga ?menyerang balik? seringkali hanya membuat luka di hati semakin lebar dan dalam yang hanya semakin merusak hubungan suami-isteri. Saya bisa mengerti jika Ibu mungkin merasa berat memulai lebih dulu hal ini, tetapi sikap rendah hati dan mengutamakan kepentingan orang lain/pasangan adalah sikap yang berkenan pada Tuhan. Tidak ada salahnya juga jika Ibu meminta maaf seandainya ada sikap-sikap Ibu yang juga melukai hati suami. Dengan tetap berdoa pada Tuhan, kita harapkan suami Ibu dapat terdorong untuk mengikuti teladan Ibu.
Demikian Ibu Rika masukan dari saya, kita tetap berharap pada Tuhan agar Ia selalu ikut campur sehingga hubungan Ibu dan suami dipulihkan.

SHARE