Menelusuri Alam Baduy

0
34

.

Perjalanan menuju tempat sakral Baduy memang tidak mudah. Setelah menempuh jalan darat, melintasi tol Jakarta-Serang, keluar di Balaraja Barat, menghantam bentangan aspal rusak hingga kota Rangkasbitung menuju kecamatan Leuwidamar, dengan lama perjalanan hampir lima jam, akhirnya Esquire tiba juga di terminal Ciboleger.

Wilayah yang menjadi muara kendaraan untuk pelancong yang berminat mengunjungi desa Kanekes, di kaki pegunungan Kendeng. Pedesaan yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki itu adalah tanah perkampungan kelompok masyarakat adat tradisional Sunda, Baduy atau urang Kanekes.
 
Di terminal Ciboleger, Esquire istirahat sejenak, mengisi perut dan berbincang dengan Pak Sartim, penduduk Baduy luar. “Desa Kanekes itu wilayah orang Baduy, yang terbagi menjadi Baduy dalam, yang ketat mengikuti aturan adat dan Baduy luar, yang diberi kelonggaran dari aturan adat. Perkampungan Baduy luar mengelilingi wilayah Baduy dalam. Untuk masuk ke daerah tersebut, kendaraan harus diparkir di sini (Ciboleger), dan jalan kaki ke dalam”, ujar Pak Sartim.

Suasana di terminal Ciboleger tidak seperti terminal pada umumnya yang cenderung semrawut. Di tempat yang disebut gerbang masuk utama ke desa Kanekes ini suasananya lebih tenang. Nampak beberapa warung nasi, toko kelontong kecil, sampai pedagang merchandise khas Baduy yang tertata rapi melingkari lapangan parkir. Di sinilah tempat menghimpun semangat dan tenaga, untuk berjalan kaki menuju Baduy dalam, belasan kilometer dari Ciboleger. Untuk menuju tempat ini, Anda harus didampingi oleh seorang pemandu yang biasanya adalah orang Baduy luar.

Seperti kebanyakan bagian pegunungan, wilayah Kanekes memiliki kontur permukaan berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah yang cukup terjal. Sehingga ritme perjalanan merupakan kombinasi menanjak dan menurun, dengan selingan sungai kecil yang melintas. Untuk menuju Baduy dalam, harus melewati beberapa kampung, seperti Kaduketeug, Gajeboh, Balingbing, atau Marengo. Di wilayah ini masih ada kelonggaran aturan adat.

Secara umum, masyarakat Baduy memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan, yang berakar pada pemujaan arwah nenek moyang (animisme) dan dipengaruhi agama Islam, Budha, dan Hindu. Inti kepercayaan itu digariskan dari pikukuh (kepatuhan) Kanekes yang di antaranya berbunyi: lojor heunteu beunang dipotong, pendek heunteu beunang disambung, yang berarti panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung.

(sumber: Esquire Indonesia)

SHARE