Tujuan Wisata Pilihan Orang Awak di Tanah Minang

0
42

.”Saya sangat terkesan pada desa kelahiran saya. Saya sudah sering
keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan yang seindah
Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu
indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada di
balik pemandangan itu”
(Kenang-kenangan 70 tahun Buya Hamka)

*****

Potongan catatan pulang ke tanah kelahiran membuahkan panduan wisata
singkat menjelajahi tanah Minang. Berbagai tujuan wisata pilihan
dijabarkan di bawah ini.    

Kelok Ampek Puluah Ampek
Satu kawasan di antara Bukittinggi dan Maninjau yang dikaruniai pemandangan berupa lembah menghijau dan dijadikan tempat persinggahan – tempat bersiap mental sebelum menghadapi kelokan tajam di kelok 44! Dari arah Bukittinggi, mulai dari Ambun Pagi, kecamatan Matur, berkelok-kelok jalan menurun yang akan mengantarkan kita ke tepi Danau Maninjau. Dek urang awak ko sanang baretong, dinamokanlah inyo kelok Ampek puluah ampek – karena orang Minang yang senang menamakan tempat dengan angka hitungan, jalan berbelok-belok itu dinamai Kelok Empat Puluh Empat sesuai dengan jumlah tikungan tajam di sepanjang ruas jalan tersebut.

Rasa mual yang diakibatkan oleh gerakan bus yang berbelok diobati oleh pemandangan indah danau dengan permukaan tenang yang dilingkungi deretan perbukitan. Karena daerah ini juga merupakan kawasan hutan yang dilindungi, seringkali gerombolan monyet ekor panjang muncul di tepi jalan – menambah daya tarik sendiri bagi mereka yang melintas.

Ambun Pagi, Matur
Ambun pagi dikaruniai dengan pemandangan yang menakjubkan ke arah Danau
Maninjau. Dengan hawanya sejuk, tempat wisata di kecamatan Matur ini
menjadi pilihan untuk bersantai sambil menikmati aneka penganan khas
Maninjau yaitu berbagai olahan dari rinuak – semacam ikan kecil serupa
teri yang banyak hidup di danau tersebut.

Museum Buya Hamka
Rumah kelahiran Ulama, Sastrawan, sekaligus Negarawan Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) di Sungaibatang, Maninjau.

Kemenakan beliau, Haji Hanif Rasyid menjadi pemandu museum, menguraikan kisah hidup Buya, mulai dari kelahirannya di rumah ini, perceraian kedua orangtuanya, kenakalan di masa muda, pencerahan dari guru pertamanya Buya Sutan Mansur, pendidikannya di Mesir, kedekatannya sekaligus perseteruannya dengan Soekarno, kiprahnya sebagai ketua MUI dan Majelis Kerukunan Beragama, sampai akhir hayatnya.

Sang pemandu juga memaparkan empat pesan utama dari Buya Hamka, di antaranya:
1. Orang yang pintar adalah orang yang selalu merasa bodoh
2. Hanya orang yang suci yang bisa bertemu dengan Yang Maha Suci
3. Orang yang beruntung adalah orang yang merintis jalannya menuju kampung halamannya
4.  Ketika kemiskinan mengetuk pintu, aku menyelamatkan diri lewat jendela (miskin iman, miskin ilmu, miskin akhlak, dan miskin harta)

  
Kotogadang dan Pandai Sikek

Kotogadang yang masuk daerah Bukittinggi dan Pandai Sikek yang masuk wilayah Padang Panjang merupakan dua kota kecil bernama besar untuk urusan kerajinan tangan.

Kotogadang banyak menghasilkan ilmuwan besar – di antaranya KH Agus Salim dan Prof DR Emil Salim – mengingat falsafah masyarakatnya yang amat mengutamakan pendidikan tinggi. Tempat ini – yang namanya sering dibandingkan dengan Kotagede Yogyakarta – merupakan daerah pusat pengrajin perak. Aneka perhiasan dan pajangan berbahan dasar perak dengan motif yang rumit dan indah menjadi karya bukti dedikasi para pengrajin.

Sementara Pandaisikek merupakan sentra kerajinan sulaman, bordir, dan tenun songket. Keindahan dan kerapihan karya para perajin di sini juga sudah ternama ke luar negeri terutama Malaysia, Singapur, dan Brunei Darussalam. Bahkan seringkali para wisatawan dari negeri-negeri tersebut yang sengaja berbelanja langsung ke kota di kaki gunung Merapi ini.

Ngarai Sianok, Bukittinggi
Ngarai Sianok adalah sebuah lembah curam yang terletak di jantung kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Lembah ini memanjang dan berkelok dari selatan ngarai Koto Gadang sampai di ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai Palupuh. Ngarai Sianok memiliki pemandangan yang indah.

Jurang ini dalamnya sekitar 100 m membentang sepanjang 15 km dengan lebar sekitar 200 m. Patahan ini membentuk dinding yang curam, bahkan tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau – hasil dari gerakan turun kulit bumi (sinklinal) – yang dialiri Sungai Sianok yang airnya jernih. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai.

Terowongan Jepang
Selama masa pendudukannya di Indonesia, Jepang mempersiapkan sarana pertahanannya di Bukittinggi ini berupa jaringan terowongan bawah tanah – luas jaringan ini kira-kira sama dengan luas pusat kota ini.

Diperkirakan puluhan sampai ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari tanah Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan strategi kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaprojek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.

Jepang rupanya tidak salah pilih dalam membangun terowongan ini. Selain lokasinya yang strategis di kota yang dahulunya merupakan pusatnya Sumatera Tengah, tanah yang menjadi dinding terowongan ini merupakan jenis tanah yang jika bercampur air akan semakin kokoh. Bahkan gempa yang mengguncang Sumatera Barat tahun lalu tidak banyak merusak struktur terowongan.

Sejumlah ruangan khusus terdapat terowongan ini di antaranya ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.

Semenjak tahun 1984, terowongan Jepang sudah dikelola menjadi objek wisata sejarah oleh pemkot Bukittinggi.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang
Dalam perjalanan menuju kota Padang, rombongan berhenti sejenak di Kota Padang Panjang. Kota yang sejuk dan bersih ini bisa dibilang kota pendidikannya Sumatera Barat. Anak-anak santri yang tengah menempuh pendidikan di sekolah Diniyah Putri dan Thawalib Putra mewarnai suasana sehari-hari kota ini.

Tidak salah juga jika Bustanul Arifin, menteri Koperasi pada masa orde baru, memilih kota ini sebagai lokasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau yang ia prakarsai. Perpustakaan sekaligus museum yang memuat koleksi dokumentasi alam dan manusia minangkabau ini diwujudkan dalam satu kompleks yang secara fisik adalah perumahan tradisional minangkabau. Bangunan utamanya adalah Rumah Gadang Koto Piliang, yakni yang lengkap beranjuang. Di depannya berjejer deretan empat rangkiang atau lumbung padi, dengan jumlah tiang yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi lumbung tersebut.

Di dalam bangunan tersebut, seorang pustakawati memberi sedikit pemaparan mengenai budaya Minangkabau yang mengambil pelajaran dari alam sekitarnya “Alam takambang jadi guru”.

Sebagai contoh, tiang-tiang rumah gadang ini sengaja dibuat miring seperti tiang-tiang kapal sementara pondasinya dibuat bisa berputar pada landasan. Hal ini terinspirasi dari keadaan bumi Minangkabau yang sering dilanda gempa.

Ukir-ukiran pada rumah juga menyibolkan filosofi yang terambil dari alam. Misalnya ukiran ‘Kucing Lalok’ menyimbolkan filosofi kewaspadaan sebagai mana waspadanya kucing yang tengah tidur. Ada lagi ukiran ‘Kambang Manih’ yang menyiratkan keramah-tamahan, ‘Itiak Pulang Patang’ yang melukiskan ketertiban dan keteraturan, serta ‘Lumuik Anyuik’ yang menggambarkan daya tahan dan kemampuan menyesuaikan diri di manapun berada.

Pertunjukan Seni Tradisional
Saat makan malam di hotel, para tamu disuguhi juga dengan pertunjukan
tradisional dari grup kesenian Gastarana dari Bukittinggi.

Grup ini menampilkan musik talempong dengan lagu-lagu khas Minang
seperti “Minangkabau tanah nan den cinto” dan “Usah diratoki”.

Selanjutnya sebagai sajian menyambut tamu kehormatan, mereka menyajikan
tari Pasambahan lengkap dengan siriah dalam carano. Setelah itu tampil
pula tambur Pariaman yang biasa disajikan dalam festival kesenian Tabuik
di bulan Muharram.

Selepas itu tampil gadih-gadih rancak membawakan kolaborasi Indang,
Zapin, dan Saman. Sebagai puncak acara, muncul tari Piriang lengkap
sampai ke atraksi menari di atas pecahan piring

SHARE