Active Wheel

0
41

.Michelin mengembangkan teknologi ban pintar untuk disandingkan dengan mesin listrik yang ramah lingkungan. Ban pintar tersebut memiliki mesin listrik sendiri, dan suspensi rumit yang akan merevolusi industri otomotif. Upaya Michelin ini adalah bukti kepedulian mereka terhadap lingkungan hidup yang terbebas dari emisi gas buang merugikan, yang dihasilkan mesin konvensional. Teknologi ban pintar tersebut dinamakan, Active Wheel. Bagaimana cara kerja ban pintar itu?

Mudahnya, Active Wheel adalah ban biasa yang di dalamnya dipasang sepasang mesin/motor penggerak. Motor pertama bertugas untuk memutar ban, dan menyalurkan tenaga yang dihasilkannya ke permukaan jalan. Sedangkan motor kedua bertugas untuk mengendalikan suspensi aktif secara elektronik. Sistem ini dirancang untuk mobil bermesin listrik. Selain itu, teknologi ini juga membuat kita tidak lagi membutuhkan gearboks, kopling, tuas transmisi, universal joint, atau anti roll bar. Setiap rodanya memiliki bobot 42 kilogram, dan sudah termasuk motor listrik 30 kilowatt berpendingin air dengan ukuran tak jauh beda dari motor starter mesin konvensional. Motor listrik ini memiliki gerigi ?bertaji? yang bertugas menggerakan gear terluar dari hub roda.

Motor listrik kedua beroperasi sebagai suspensi aktif via susunan gear rack and pinion yang secara efektif menggantikan shock absorber hidraulik. Setiap roda juga dilengkapi per keong untuk menjaga beban statis mobil dan rem cakram. Rodanya sendiri dihubungkan ke rangka mobil melalui suspensi single lower control arm.

Ban ini, bisa dipasang di bagian depan mobil (roda depan), yang akan membuat mobil ini berpenggerak roda depan, atau bisa pula dipasang di setiap sudut roda (menjadi AWD). Sistem ini juga memungkinkan torsi dari motornya dikontrol secara elektronik ke salah satu rodanya, secara independen. Hasilnya mirip dengan efek yang ditemui pada differensial aktif, yang membuat mobil dengan teknologi active wheel lebih mudah membabat tikungan pada medan yang tak ramah.

Untuk suspensinya, sebuah motor elektrik mengontrol sebuah aktuator yang terkoneksi pada sistem peredaman dengan level kekerasan yang bervariasi. Sistem yang unik ini memiliki repons 3/1.000 detik, dan semua gerakan yang merugikan akan terkoreksi secara otomatis. Keunggulan lainnya adalah dalam hal keselamatan pasif. Karena tak lagi membutuhkan mesin yang secara tradisional berada di depan, area yang berada di balik bonnet tersebut dapat dipergunakan sebagai zona peredaman benturan.

Percobaan pun dilakukan Michelin bersama Paul Scherrer Institute (PSI), Swiss, dan menerapkannya pada Opel Agila yang dirancang ulang oleh perusahaan karoseri Heuliez WILL. Sistem active wheel ini dikombinasikan dengan fitur Hy-Light, yakni sebuah fitur yang akan menyetel pilihan roda penggerak, empat roda sekaligus atau cukup dua roda. Dalam hal ini, Heuliez memilih peggerak roda dua. Menganut sistem gerak roda depan, kombinasi kedua motor listrik tersebut menghasilkan tenaga 60 Kw (81 hp), dengan tenaga puncak mencapai 120 Kw (setara 163hp) pada saat mobil berakselerasi. Dari performa ini, akselerasi 0-100 kpj diraih dalam 10 detik, dengan kecepatan maksimum mencapai 140 kpj.

Sebagai sumber listriknya, disediakan tiga pilihan baterai litihium-ion dengan jarak tempuh masing-masing 150 km, 300 km dan 400 km per satu kali pengisian. Pengemudi tinggal memilih jenis baterai yang sesuai untuk kebutuhannya. Active Wheel juga mengisi ulang energinya selama terjadi pengereman untuk memperpanjang jarak tempuh. Motor listrik ini dilaporkan memiliki efisiensi hingga 90%, jika dibandingkan dengan mobil konvensional untuk jarak tempuh yang sama di daerah perkotaan.

SHARE