Pulau Edam: Melacak Jejak Sejarah

0
27

.Menelusuri Kekayaan Pulau Seribu selalu menyenangkan. Jaraknya pun tak jauh dari Jakarta.

Pulau Edam, juga dikenal dengan Pulau Damar Besar, mungkin kurang dikenal dibanding pulau-pulau lain di kepulauan Seribu. Padahal, pulau ini memiliki cerita sejarah menarik.

Perjalanan dimulai dari pelabuhan Muara Karang. Kendaraan diparkir di depan pasar ikan, lalu kami jalan kaki melewati ikan-ikan dan hasil tangkapan laut lainnya menuju dermaga. Di sana, sudah menunggu beberapa perahu nelayan. Kami naik ke salah satunya yang sudah dipesan untuk mengantar kami. Hanya perahu kayu biasa yang dikemudikan seorang nelayan, yang dibantu anaknya.

Hari masih pagi dan matahari belum begitu terik ketika kapal mulai berlayar. Tampak beberapa jermal, tempat menangkap ikan di tengah laut, terlewati oleh kapal kami. Setelah sekitar dua jam di laut, terlihatlah sebuah pulau yang memiliki mercu suar. Itulah Pulau Edam.

Sejarah pulau yang dimulai pada abad ke-17, saat Gubernur Jenderal Camphuys membangun rumah peristirahatannya, dikelilingi oleh taman-taman Jepang. Sayang, bangunan rumah itu tak bersisa, hanya tinggal reruntuhannya. Sementar mercu suar yang terdapat di pulau ini dibangun pada 1879 atas perintah Raja Willem III. Mercusuar dengan tinggi 16 lantai ini terbuat dari besi cor yang sudah sedikit rapuh dan berlubang di sana sini. Dari lantai paling atas tempat lampu besar mercusuar ditempatkan, pemandangannya sangat indah. terlihat hampir seluruh pulau dikelilingi laut biru dan perahu yang parkir di dermaga. Namun, kondisi mercu suar yang sudah sangat rapuh membuat berlama-lama di lantai atas terasa kurang aman.

Pada zaman perang dunia ke-2, pulau ini dipakai sebagai tempat observasi. Di beberapa tempat masih terlihat beberapa bunker pertahanan, bekas masa perang. Setelah kemerdekaan Indonesia, pulau ini dimanfaatkan untuk menempatkan anak yatim piatu dan gelandangan. Tetapi karena tidak betah, banyak dari mereka yang kabur. Selanjutnya, pulau ini juga pernah dipakai untuk tempat orang-orang jompo. entah mengapa keadaan ini tidak berlanjut, sekarang pulau ini tidak lagi berpenghuni. Pada waktu berjalan keliling pulau, kami juga sempat melewati makam yang konon adalah makam penguasa Banten yang melarikan diri karena rayatnya memberontak.

HAri menjelang sore ketika akhirnya kami meninggalkan pulau. Tanpa meninggalka Jakarta terlalu jauh, dalam sehari kami mendapatkan pengalaman baru dan cerita-cerita dari masa lalu.

(Sumber: Esquire Indonesia)

SHARE