Benteng Baresi

0
23

.Bagi Anda penggemar sepakbola pasti mengenal tokoh satu ini. Ia adalah ‘penjaga benteng’ terakhir (sebelum kiper) di pertahanan AC Milan dan Italia pada era ’80an hingga ’90an. Hampir setiap penyerang dari tim sepakbola manapun gentar menghadapi seorang Franco Baresi, bek tengah yang kerap berfungsi sebagai sweeper atau ‘penyapu bersih’ serangan lawan.

Sementara buat yang tidak mengetahui sepak terjangnya ketika masih aktif bermain di lapangan hijau, segenap pengabdian dan pelajaran hidup yang dibagikannya bisa menjadi contoh nyata sekaligus inspirasi untuk terus berkarya, apapun profesi yang Anda geluti sekarang.

Bukti telah terpampang jelas bagaimana klub sebesar AC Milan menghormati pengabdian Baresi selama 20 tahun di tim berkostum merah-hitam itu. Nomor 6 miliknya diabadikan dan sampai kapan jua tak seorang pemain pun yang bisa menggunakan nomor itu lagi. Mengenai ini Baresi berujar, “Saya sangat bangga dan bahagia dengan pemberian status abadi bagi nomor 6. Itu adalah penghormatan yang luar biasa dari klub AC Milan terhadap dedikasi saya.”

Tentu status legenda layak disandangnya bila kita menoleh pada loyalitas tinggi yang diberikannya selama periode sulit maupun masa jaya AC Milan. Ketika ia memulai karier sebagai bek dalam tim dari kota pusat fashion dunia ini, suasana terpuruk yang justru dialaminya. Mungkin Anda masih ingat bahwa di awal dekade ’80an, AC Milan menghadapi kasus di liga serie A Italia dan harus turun kasta ke tingkat kompetisi lebih rendah.

Meski dibujuk berbagai klub lain, Baresi memilih bertahan dan setia menjadi bagian tim yang kelak akan membuatnya menjadi legenda besar Italia. “Hubungan yang kuat antara pemain dan tim sangat penting. Selama karier, saya hanya bermain untuk satu klub karena saya dan AC Milan memiliki visi dan mimpi yang sama,” ungkap Baresi.

Dedikasinya bukan sesuatu yang sia-sia, sebab bersama AC Milan pula Baresi berhasil mereguk buah kesuksesan di liga Italia serta Eropa saat menjadi kapten tim yang kerap disebut sebagai Football Dream Team. “Momen terbaik sepanjang karier saya tentu saja awal dekade ’90an, ketika AC Milan menjadi klub terbesar di Italia dan kami memenangi beberapa trofi kejuaraan Eropa,” lontar pria kelahiran Brescia 50 tahun silam ini.

Sosoknya pendiam dan terkesan serius, tapi sesekali ia juga tertawa ringan. Termasuk saat ditanya soal peluang tim nasional Italia pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan bulan ini. “Hmmm…mungkin untuk turnamen tahun ini Italia tidak diunggulkan, tapi negara mana sih yang berani menghadapi kekuatan Italia?” ungkapnya sambil terkekeh.

Menyoal gaya kepemimpinannya saat menjadi kapten AC Milan dan tim nasional Italia, Baresi menyampaikan pesan, “Menjadi kapten tanggungjawabnya besar. Untuk meraih rasa hormat dari pemain lain, Anda harus mampu memberi contoh baik terutama saat sesi latihan.”

Ia mengakui perihal pesatnya perkembangan industri sepakbola modern yang baginya bersifat positif. “Zaman saya dulu sangat berbeda, tak banyak pemain yang hidup mewah. Sekarang lebih banyak peluang,” ujar pria yang gemar berlibur bersama keluarganya ke kawasan pantai Sardinia di Italia. Itu pula yang mendorongnya untuk menjadi bagian dari pencarian bakat AC Milan, yaitu dengan mendirikan Milan junior camp di Bali. “Talenta tersebar di seluruh dunia, tentunya dengan adanya kamp pelatihan ini talenta muda Indonesia punya kesempatan untuk berkembang menjadi pesepakbola dunia,” ungkapnya penuh harap.

Demi mewujudkan kemajuan persepakbolaan Indonesia, tentu saja tak semudah yang diangankan dan mesti melalui proses serta dukungan seluruh pihak. “Ada banyak faktor untuk membangun tim sepakbola yang kuat. Yang terpenting adalah dukungan dari pemerintah dan masyarakat termasuk organisasi, fasilitas dan struktur yang baik. Sebab pengembangan bibit-bibit muda inilah yang nantinya akan berkontribusi terhadap kejayaan tim nasional suatu negara,” ujar Baresi.

Tidak setiap bulan Indonesia dihampiri sosok-sosok legendaris dari dunia sepakbola seperti Franco Baresi. Negeri berusia 65 tahun ini pun sebetulnya punya banyak tokoh hebat di bidang olahraga, namun kerap terlupakan. Bukan sekadar mengagumi sosok Baresi, tapi negeri berlambang Garuda ini semestinya mampu lebih giat mencetak atlet-atlet berskala internasional yang ujungnya akan mengharumkan nama besar Indonesia, seperti yang pernah ditorehkan para pendahulu kita.

(sumber : Esquire Indonesia)

SHARE