Mercedes-Benz DiesOtto

0
70

.Secara teknis, jenis motor bakar terbagi menjadi dua: bensin dan diesel. Keduanya memiliki sifat berbeda dalam menghasilkan energi, dikarenakan perbedaan konstruksi dan bahan bakar yang diolahnya. Selain itu, kerja maksimum motor bensin cenderung berada di putaran tinggi dan berfokus pada tenaga (horsepower). Kebalikannya, mesin diesel bekerja maksimal di putaran rendah dan lebih bertujuan menghasilkan torsi.

Tak heran jika mesin bensin memiliki torsi yang lebih kecil ketimbang mesin diesel. Pun kebalikannya, mesin diesel biasanya memiliki tenaga yang lebih kecil dibanding mesin bensin. Masing-masing kelemahan dan kelebihan dua jenis mesin ini lantas disatukan oleh Mercedes-Benz dan diberi nama DiesOtto.

DiesOtto memiliki pendekatan unik yang terpadu untuk efisiensi. Sistem terpadu itu adalah mengurangi ukuran silinder dan mengecilkan kapasitas mesin, mengaplikasi turbocharger untuk menaikkan performa, memakai sistem injeksi bensin secara langsung, variable valve kontrol, pengapian yang terkontrol otomatis (controlled auto ignition/CAI), dan modul hybrid generator starter yang menyatu.

Bagaimana cara kerjanya? Sebenarnya mesin DiesOtto adalah mesin 1,8 liter 4-silinder bensin dengan dua turbocharger sequensial dan direct injection. Tetapi, dengan imbuhan kecerdasan ahli teknik Mercedes memadukan siklus Otto konvensional dan pembakaran tanpa busi ala mesin diesel. Saat mesin dinyalakan, mesin akan bekerja dalam mode bensin, dengan busi yang menyulut bensin yang diinjeksikan secara langsung ke dalam silinder. Tapi, begitu mesin panas (situasi berkendara), mesin secara otomatis mengubah diri menjadi mode diesel, menaikkan rasio kompresi, dan mematikan busi. Dan karena berbahan bakar bensin, DiesOtto memiliki emisi yang lebih rendah ketimbang mesin diesel.

Pembakaran tanpa busi ini akan lebih ekonomis dan hampir tidak menghasilkan nitrogen oksida (Nox). Selanjutnya, kontrol emisi pada mesin DiesOtto dikerjakan oleh katalitik konverter tiga arah. Sebagai tambahan, untuk mengkombinasikan subsistem katalitik tersebut dalam satu konsep, sistem pengaturan dan manajemen mesin yang sangat efisien telah diaplikasikan oleh Mercedes. 

Selanjutnya, elemen penting yang menopang DiesOtto adalah sistem injeksi langsung. Diambil dari sistem injeksi CLS 350 CGI, Mercedes-Benz telah melahirkan generasi kedua yang memiliki efisiensi 10% lebih tinggi ketimbang sistem injeksi konvensional. Di mesin DiesOtto, injeksi langsung yang digunakan berbeda dari mesin CGI, di mana saat pembakaran miskin (lean burn operation), dibutuhkan campuran bensin di sekitar busi. DiesOtto beroperasi dengan campuran miskin (lean mixture), tapi membutuhkan injeksi langsung untuk campuran homogen di dalam silinder dan untuk pengaturan siklus injeksi.

Komponen penunjang lainnya, adalah kontrol katup variabel. Durasi buka-tutup katup dapat diatur besarannya, begitu juga dengan sudut angkatnya. Untuk menggapai hal ini, dua buah camshaft (besar dan kecil) bertugas mendorong setiap katup bergantian. Camshaft bertonjolan besar berguna saat operasi kerja penuh (full load operation) dan mesin pada putaran tinggi, sedangkan camshaft bertonjolan kecil bertugas kala mesin idle atau saat beban partial.

Jika CAI adalah tulang punggung sistem secara elektronik, maka untuk sistem mekaniknya tak lain adalah digunakanya kruk as yang mampu berputar variabel. Cara ini tak lain untuk menghasilkan komprersi geometrik, yaitu skala kompresi ekuivalen antara kompresi motor bakar bensin dan kompresi motor bakar diesel. Dengan berputarnya kruk as secara variabel, maka secara mekanik, mesin dapat diubah karakternya secara drastis.

Dari data uji Mercedes, mesin DiesOtto berkonfigurasi 4-silinder segaris yang disematkan pada mobil konsep F700, mampu menelurkan tenaga 238 hp dan torsi maksimum 400 Nm. Hasil ini mengalahkan tenaga mesin bensin 350 V6 CGI dan mengalahkan torsi mesin diesel 320 V6 CDI. Sedangkan konsumsi BBM tercatat 18 kpl dan kadar emisi CO2 127 g/km.

(sumber : Autocar Indonesia)

SHARE