Jalan Terbuka di Negeri Surya

0
30

.Paul Theroux menuliskan memoar perjalanannya dari Kairo sampai Cape Town dalam buku Dark Star Safari. Kalau Anda kebetulan sudah berada di Afrika Selatan selama musim Piala Dunia, tentu yang terasa di kota-kota besar hanyalah kegaduhan, hotel penuh dan mahal, kadang jalan sedikit macet, dan ya tentu saja?teriakan melengking fans bola yang bersahut-sahutan. Tapi, bagi siapa pun yang mendaratkan kaki ke Afrika Selatan hanya untuk menonton bola, mereka tentu kehilangan banyak hal dalam hidupnya. For me, Africa always be a Bright Star Safari.

Begitu sampai di tempat, saya disambut tarian tradisional Afrika Selatan sambil menunggu makanan selesai dimasak. Daging panggang dengan salad tradisional khas warga semenanjung langsung ludes. Sejarah pemukiman warga asing dari seluruh dunia membuat menu Afrika Selatan dipengaruhi banyak rasa. Salad dan saus krim bawaan masakan Eropa, daging.

Sewaktu di Cape Town, saya menyewa apartemen di wilayah Green Point. Dari balkon atap rumah, tampak Table Mountain yang sesekali bermandikan lampu agar bisa dinikmati di malam hari. Dari arah yang berlawanan, tampak Victoria & Alfred Waterfront, marina dengan bangunan-bangunan berwarna putih yang menjorok ke samudera Atlantik. Di wilayah Green Point juga berdiri Cape Town.

Stadium yang baru. Tempat ini akan menjadi tuan rumah banyak pertandingan Piala Dunia, hingga babak semifinal.Hari-hari terakhir di Cape Town saya habiskan dengan menikmati aroma laut dari dekat. Sebelum mampir ke sejumlah pantai di selatan semenanjung, saya makan siang di Salt Restaurant di hotel Ambassador. Tempat ini adalah rumah dari koki Jacques de Jager, salah satu koki lokal ternama. Sajiannya makanan Prancis dengan sentuhan Afrika Selatan. Siang itu, saya memilih petit poussin dan truffled linguini untuk mengisi perut. Tapi yang paling mengesankan di restoran ini adalah dinding kaca yang berdiri dari langit-langit sampai lantai. Dari pantulan kaca itu, tampaklah Samudera Atlantik. Saya merasa seperti benar-benar makan sambil menginjak laut lepas. Belum lagi pricelist di Salt yang tidak kelewat mahal membuat pemandangan terasa seperti a priceless free complimentary item.

Meski tak sendirian dan ada sejumlah turis lain yang sedang berkunjung, toh saya merasa seperti hanya berdua saja dengan alam. Di momen-momen seperti ini, siapa pun akan mudah tersapu kekaguman. Untung pakai kacamata hitam, karena saat itu saya sudah tak kuasa menahan air mata lagi.

(Sumber: Esquire Indonesia)

SHARE