Tips Menjaga Kinerja Ford Everest dan Ranger

0
1584

.Kehadiran duet Ford Everest dan Ford Ranger merupakan oase pasar permobilan Tanah Air. Keduanya tak pelak menuai sukses, terlebih bagi konsumen yang favorit terhadap mobil Amerika. Nilai durabilitas dan performa adalah dua sektor utama laris manisnya Everest-Ranger.

Namun, untuk beberapa hal, kedua mobil dirasakan kurang mumpuni untuk dikendarai. Sebut saja bantingan suspensi yang keras dan performa mesin yang sedikit kurang mengigit kerap dikeluhkan pengguna Everest-Ranger baik dalam milis atau curhat mereka ke bengkel langganan. Berdasarkan hal itulah, kami menguak langkah optimalisasi keduanya.

Mesin
“Dari segi teknis, tenaga dan torsi mesin diesel Ford baik versi 2.5 L dan 3.0 L terbilang cukup baik,” ujar Mendy Saputra dari Teknik Delta Turbo Diesel, di wilayah Klender, Jakarta Timur. “Versi 2.5 Liter-nya bertenaga 140 hp, 330 Nm, lebih besar dari Mistubishi Triton 2.5L yang hanya 136 hp dan 314 Nm. Sedangkan versi 3.0 Liter, bertenaga 154 hp dan torsi 380 Nm, lebih besar dari Isuzu D-Max 3.0L yang bertenaga 130 hp, 280 Nm.”

“Output daya sebesar itu sebenarnya cukup mumpuni untuk penggunaan harian, hanya saja jika ada keluhan soal performa, ada baiknya periksa dulu kondisi filter udara dan filter solar berikut sedimenternya.” jelasnya.

Mendy juga menambahkan, agar pemilik Everest-Ranger lebih teliti dan telaten sebelum menuangkan BBM Solar ke tangki mobil. “Sebaiknya, untuk mereka yang memakai BBM solar non-subsidi ada baiknya ditambah additive solar yg bermutu. Bila menggunakan solar atau biosolar secara full, maka bisa dipertimbangkan untuk memasang extra serial fuel filter sebelum filter solar utama sebagai Pre Filter. Dengan cara ini, CRD (Common Rail Diesel) akan lebih awet.” sarannya

Suspensi
“Everest-Ranger menganut konstruksi suspensi per daun dibagian belakang dan double wishbone di depan. Rangkaian ini cocok untuk area medan berat. Sehingga, untuk pemakian jalan raya, bantingan suspensi terbilang cukup keras,” jelas Agus, mekanik ahli dari bengkel suspensi khusus per daun, Tenaga Baru, dibilangan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

“Kalau mau diakali agar bantinganya lebih empuk, struktur suspensi perdaunya harus dirubah. Per daunnya bisa saja diambil dari mobil pick-up kecil atau minibus lawas. Tetapi, konsekuensinya daya tahan suspensi agak berkurang,” imbuh pria paruh baya ini.

“Jadi, sebaiknya per daun asli dipertahankan, hanya saja bushing-bushingya diganti produk aftermarket berbahan polyeurathne. Bushing tipe ini lebih kenyal dari versi standar, sehingga bantingan suspensi bisa lebih empuk.” tambahnya.

Pergantian bushing suspensi tidak hanya berlaku untuk buritan, tetapi juga untuk rangkaian suspensi depan. “Konstruksi double wishbone di kaki-depan Everest-Ranger hampir sama dengan Kijang,” ujar Bang Lili, dari bengkel suspensi Lili, di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan. “Rangkaian ini tidak memakai pegas keong, jadi optimalisasinya paling banter hanya pergantian shockabsorber,”

“Idealnya pergatian shockabsorber disesuaikan fungsinya. Jika dipakai mengangkut banyak orang dan mobil melintasi medan berat, bisa dipilih tipe gas. Sedangkan pemakian harian, boleh dipakai jenis hidraulik. Satu hal sebelum mengganti shockabsorber, sebaiknya pilih buatan Amerika atau Eropa, karena seusai dengan karakteristik bobot mobil. Kalau buatan Jepang bisa saja, hanya umurnya agak pendek, karena biasanya shockabsober Jepang didesain untuk mobil berbobot ringan.” imbuhnya.

(sumber:Autocar Indonesia)

SHARE