Pertautan Tiga Prinsip di Gianyar

0
43

.Di tengah-tengah demam Piala Dunia, sehari sebelum jutaan pencinta sepak bola menunggu pertandingan Argentina melawan Jerman, lebih dari 100 penari kecak asyik melakukan pra pertandingan di Lapangan Astina, Gianyar, Ubud. Penari kecak membentuk barisan kecak di luar pakem (melingkar), khas koreografi I Ketut Rina. Mereka membentuk sap, garis, berdiri, bergerak cepat dan terkadang sangat liar.

Tarian ‘Kecak kocak’ malam itu adalah cuplikan pergelaran Tri Hita Karana yang diadakan sebagai pembuka Gempita Gianyar yang memasuki tahun ke-3. Tri Hita Karana. Tiga kausa kesejahteraan, menurut kepercayaan masyarakat Bali bisa dicapai melalui harmonisasi antara manusia dengan Tuhan, alam lingkungan, dan sesamanya.

“Berkesenian pun bisa diekualisasikan dengan tindak dan perilaku sehari-hari yang tidak terpisahkan dengan alam,” ujar Dewa Budjana, yang malam itu harmonis berkolaborasi dengan Ayu Laksmi yang lantang merapal Gayatri Mantram, bagian pertama doa Tri Sandya yang terlantun menjadi sebuah lagu. Hadir pula Gita Gutawa yang usai melantunkan Karma dan Cening Putri Ayu diiringi Budjana, meloncat lincah menyanyikan Malu Tapi Mau di atas panggung garapan Jay Subyakto. Penampilan Gita pun sempat membuat sebagian wisatawan mancanegara yang membaur bersama 10 ribu penonton terbengong-bengong.

Bupati Gianyar Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menyambut Esquire saat Peliatan Royal Heritage Dinner. “Saya ingin Gianyar menjadi destinasi wisata seni dan budaya yang terjaga keindahan dan keasliannya,” tegasnya.

Jamuan makan malam dengan penyajian ala kerajaan Bali di kediaman Cokorda Gde Putra Nindia itu menjadi penutup sempurna lawatan kultural kali ini, sekaligus menutup kekecewaan terhadap empat gol ‘sepele’ Jerman ke gawang Argentina.

(Sumber: Esquire Indonesia)

SHARE