Beyond the Parade

0
83

.Gemerlap. Itulah kesan fashion Surabaya. Lewat parade ini, Surabaya menghentak perkembangan dunia fashion  untuk disimak. So, what’s new?

BEHIND THE PARADE
Gemuruh etnik masih jadi perbincangan terutama untuk musim panas 2010 ini. Sebut saja Kenzo, Dries Van Notten, dan Isabel Marrant. Tampilan etnik dalam kemasan modern masih menjadi inspirasi menantang yang tiada habisnya bagi para desainer papan atas. Para penikmat fashion saat ini menikmati dan mengadaptasi gaya etnik ini secara luwes, modern, dan stylish saat mamadukan basic items dengan nomor-nomor etnik.

Di ulang tahunnya yang ke-715, Surabaya semakin memantapkan diri menjadi destinasi fashion Tanah Air. Kecintaan para Surabaya urbanites akan fashion sudah terbukti. Selain banyak desainer senior negeri ini berasal dari Surabaya, seperti Biyan, Sally Koeswanto, dan Deny Wirawan, para desainer muda juga marak berkreasi dengan brand-brand indie. Tunjungan Plaza, salah satu mal terkemuka di Surabaya, memiliki hasrat dalam menjadikan kota ini jadi destinasi mode yang terdepan.

Tiap tahunnya, mal ini sukses mengadakan suatu perhelatan fashion prestisius yang selalu bekerja sama dengan APPMI Jawa Timur, yaitu ‘Surabaya Fashion Parade’. Etnik menjadi tema khusus karena mengangkat materi khas Tanah Air, yaitu sarung. Event yang berlangsung pada 25-30 Mei lalu ini menggelar beberapa kompetisi, seperti Surabaya Textile Display Competition, yaitu lomba drapping kain pada mannequin, Surabaya Fashion Designer Award, dan Surabaya Fashion Illustration Award.

L’AMBIANCE D’UN SARONG
Di tahun ketiga ini, sarung menjadi tema pilihan, sehingga keseluruhan acara pun bertajuk “L’ambience d’un Sarong”. “Sentra penghasil sarung dengan motif dan warna yang kaya banyak terdapat di Surabaya. Lewat event ini, kami ingin mengangkat pamor sarung jadi lebih terkenal,” tutur Dian Apriliana, Manager Promosi Tunjungan Plaza.

Hal ini juga disetujui oleh desainer Deden Siswanto, salah satu juri acara ini. “Sarung mudah beradaptasi. Pemilihan motif dan warna yang tepat, mampu merealisasikan sebuah karya yang bernilai dari hanya sekadar sehelai sarung,” tutur ketua APPMI Jawa Barat ini. Juri yang lain adalah Ali Charisma, desainer yang juga ketua APPMI Bali, serta Elsa Simanjuntak, Managing Editor for Fahion and Beauty majalah Cosmopolitan. Para juri kali ini dipilih karena memiliki kapabilitas yang terpandang, sehingga ajang ini pun mempunyai kredibilitas yang cukup prestisius.

SURABAYA’S VIEW
Ada pula Surabaya Model Search dan Surabaya Self Make Up Competition. Sepertinya segala aspek dalam dunia fashion seakan terus digali di Surabaya. Dalam rangkaian acara ini pula, para desainer APPMI Jawa Timur unjuk kebolehan dalam berkreasi dengan materi sarung.

Contohnya, Denny Djoewardi, desainer yang juga ketua APPMI Jawa Timur, menggarap sarung menjadi desain yang berkesan futuristik dengan sensasi asimetris. “Selera dari tiap daerah tentu memengaruhi tiap karya. Karena itu, alasan acara mendatangkan juri dari luar daerah agar para desainer bisa mendapatkan sudut pandang berbeda dan memperkaya desain Surabaya,” jelas Denny saat press conference.

(sumber: Cosmopolitan Indonesia)

SHARE