Gawat! Si Kecil Sudah Pacaran!

0
46

.Kalang kabut rasanya, bila Anda sebagai orangtua mendapati anak Anda sudah mulai melabeli dirinya sendiri sebagai seorang “pacar”. Wajar saja, bila anak sudah berpacaran saat dirinya berada pada bangku sekolah menengah. Lain halnya, bila sang buah hati mengaku berpacaran ketika masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, atau bahkan pada usia balita. What?!

Kendalikan emosi. Reaksi pertama, yang mucul saat mengetahui si kecil mengenal lawan jenis pada konteks yang melebihi teman biasa pasti mewakili perasaan cemas yang berlebihan. Ketakutan terhadap anak akan tingkah laku yang melampaui batas-batas norma yang berlaku, kekhawatiran akan pertumbuhan si buah hati dalam hal kedewasaan sebelum waktunya dan berakhir dengan penyesalan, dan masih banyak perasaan kalut lainnya. Itu wajar. Namun, sebagai orang yang jauh lebih dewasa dari segi umur, pengalaman, dan emosi, sudah seharusnya Anda menghadapi isu ini sebijaksana mungkin.

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah berusaha bersikap setenang mungkin. Hilangkan raut muka marah atau nada berbicara tinggi, yang jelas-jelas melarang anak Anda berpacaran. Anggap saja buah hati Anda mengalami masa pubertas lebih dini. Saat-saat seperti inilah anak justru membutuhkan peran Anda sebagai teman. Mereka butuh tempat untuk berbagi perasaan dan pengalaman barunya dalam hal mengenal lawan jenis. Hindari sikap otoriter, agar anak tidak menutup diri terhadap Anda, sehingga menghambat komunikasi berjalan dengan lancar. ”Dengan meninggalkan gaya otoriter, orang tua bisa bertanya kenapa ia sudah mau pacaran. Perlu diketahui, kadang remaja pacaran hanya karena tren, ikut-ikutan agar ia diterima di kelompoknya. Tingkat konformitas remaja sangat tinggi walaupun hanya karena ingin diterima kelompok. Orang tua harus memberi informasi akibat pacaran, isi waktu luang anak dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, atau beri peringatan agar ia memprioritaskan pelajaran. Buat semacam kompromi dengan si anak, bila nilainya jelek ia harus putus atau mengurangi waktunya untuk pacaran. Jadi, si anak juga dididik untuk bertanggung jawab,” jelas staf dosen Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, Theresia Indira Shanti.

Anak cenderung mengimitasi dan merekam seluruh kata-kata, gambar, peristiwa, dan masih bayak hal lain lagi, yang mucul di sekitar mereka. Tidak apa. Biarkan mereka memberi asupan wawasan luas untuk otak mereka yang sedang bertumbuh dan haus akan hal baru. “Rekaman-rekaman” tersebut hanya perlu disaring. Awasi pergaulan dan eksistensi anak dalam jaringan media-media sosial, seperti facebook, twitter, dan lainnya. Berhati-hatilah dalam memilih kata-kata saat anak berada di dekat Anda.

Usia yang belum matang menyebabkan pemikiran anak cenderung dangkal. Hal ini berdampak pula pada pengertian definisi “pacaran” menurut anak. Tanyakan langsung pada si buah hati, apa arti pacaran bagi mereka. Jangan kaget, jawaban yang Anda dapatkan akan bervariasi dan tidak disangka-sangka. Mereka bisa saja menganggap pacar hanya sekedar teman untuk diajak bermain dan pergi ke mall bersama-sama atau mungkin teman dekat yang bisa dipamerkan, karena memiliki wajah yang menawan. Lebih lucu lagi si kecil yang masih balita. Dia bisa saja mengatakan, bahwa pacar merupakan temannya untuk berbagi dan bertukar makan siang. Tak heran, bukan, bila dia mengaku punya pacar sebanyak empat, lima orang, atu bahkan lebih? Awasi dan berikan sedikit demi sedikit edukasi seks. Bukan dalam hal ranjang, tapi lebih dalam hal kontak fisik skala kecil, seperti bergandengan tangan, berpelukan, mencium pipi, mencium bibir, hingga meraba-raba tubuh. Untuk yang terakhir ini, harus lebih diwaspadai…

(*Dari Berbagai Sumber)

SHARE