Pencerah dikala Mendung Negeri Lalu

0
68

.Film Sang Pencerah karya Hanung Bramantyo bisa jadi adalah salah satu film yang tepat untuk kita nikmati di teater bioskop. Bila anda lelah dengan film Indonesia yang menawarkan jumlah kain yang kurang dan juga gempuran film anak anak di saat liburan kemarin, maka Sang Pencerah akan membuat anda lupa akan kebosanan tersebut. Diproduksi oleh MD Entertainment dan mendapat dukungan penuh PP Muhammadyah, Sang Pencerah menjadi angin semilir yang mengingatkan kita akan sang pahlawan, yang hampir kita lupa namanya.

Film ini adalah cerita sejarah yang tak memaksa kita menghafalkannya, namun memahami perjalanan sejarah itu sendiri. Bercerita mengenai kelahiran Kelompok Muhammadyah, perjalanan hidup Kyai Haji Ahmad Dahlan menempati porsi utama sepanjang film berlangsung.

Diceritakan di bagian awal, bahwa pada masa 1800an akhir, agama Islam masih dalam menyatu dengan tradisi kejawen, seperti sesajen, dan upacara perayaan pada saat saat tertentu, seperti 40 hari kematian dan kelahiran. Muhammad Darwis, nama kecil Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang merupakan anak dari salah satu khotib masjid besar di Jogjakarta, merasa terusik dengan tradisi yang seolah dipaksakan dan merupakan kewajiban. Setelah mendapatkan titah dari keraton Ngayogjakarta, Darwis berangkat ke tanah suci selama 5 tahun, dan banyak terpengaruh dengan aliran agama islam yang lebih modern dan kembali kepada akidah. Proses perjuangan Ahmad Dahlan untuk memberikan pandangan yang dirasa sesuai dengan Al Quran serta lebih maju, dan bukannya menTuhankan tradisi ini mendapatkan banyak tantangan. Disinilah cerita bergulir, hingga kepada terbukanya pemikiran Ahmad Dahlan, bahwa untuk mensejahterakan umat, bukan hanya sekedar melalui agama, namun juga melalui pendidikan dan gizi yang baik.

Kyai Haji Ahmad Dahlan diperankan dengan sangat baik oleh Lukman Sardi. Didampingi Saskia Adya Mecca sebagai sang istri, Siti Walidah, dan juga murid murid setianya yang diperankan oleh Dennis Adhiswara, Mario Irwinsyah, Ricky Perdana, Abdurrahman Arif dan musisi Giring Nidji. Aktor senior seperti Slamet Rahardjo dan Ikranegara juga turut memperkuat film ini.

Dialog yang cukup panjang sepanjang film memang bisa menjadi penghambat, tapi menyimak suatu sejarah didepan mata, bisa jadi akan membuka mata kita, bahwa suatu ide baru, seminor apapun bentuknya, bisa jadi justru akan mencerahkan cara pandang kita di masa datang.

(dari berbagai sumber)

SHARE