Seks untuk Anak

0
48

.Tidak peduli mau berapa tahun dunia maju berkembang, perasaan Anda yang syok dan canggung tentu tidak akan berubah saat si kecil mulai bertanya seputar seks. Lingkungan dan budaya timur yang menuntut kita untuk santun, menjaga cara bicara, dan menjaga sikap, cenderung membuat bangsa kita menjadi orang yang tertutup, tidak berani mengatakan sesuatu apa adanya, sering merasa sungkan, memberi label ‘tabu’ untuk banyak hal, khususnya seks.

Sikap orang dewasa yang seperti ini sangat bertentangan dengan segala keingintahuan seorang anak, yang membutuhkan jawaban lugas dan jujur. Sang buah hati akan terus bertanya dan meng-update pertanyaan sejalan dengan pertambahan umurnya. Semakin dewasa dia, semakin detil pula jawaban yang ia tuntut dari segala pertanyaannya. Freud dalam teori perkembangan psikoseksualnya, berpendapat, bahwa fase pertama dari perkembangan anak adalah fase pra-genital. Dia belum terlalu menyadari arti dan
perbedaan alat kelaminnya. Sedang kesadaran akan adanya perbedaan seks muncul setelah usia anak mencapai usia 3,5 tahun.

Sejak itu, si kecil akan “rajin” bertanya seputar seks kepada Anda sebagai orangtuanya. Anak lelaki akan bertanya-tanya, mengapa alat kelaminnya tidak memiliki bentuk yang sama dengan anak perempuan di sekolahnya? Dari mana datangnya bayi? Mengapa adik bayi bisa tinggal di perut ibu? Mengapa dada ibu lebih besar dari ayah? Dan masih pertanyaan menegangkan lainnya.

Suatu awal yang baik sebenarnya, bila sang buah hati mulai menanyakan hal-hal yang tidak lazim dan membuat orang dewasa merasa canggung untuk membicarakannya. Bagus, karena mereka bertanya langsung pada orangtuanya, sumber yang bisa dipercaya dalam memberikan pengetahuan dan pendidikan moral. Jangan sampai anak mencari jawaban dari orang lain atau orang asing, yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena merasa mentok tidak mendapat jawaban yang memuaskan dengan Anda berpura-pura tidak mendengar atau mengalihkan pembicaraan. Sederhana saja sebenarnya mengatasi serangan pertanyaan ini. Senyum di wajah dan menunjukkan perasaan senang – tanpa terlihat merasa terbebani – ketika ditanya merupakan langkah terbaik untuk mengawali percakapan.

Anda tentu tahu rasanya dibohongi. Diri akan merasa bodoh dan tentunya menjadi benar-benar bodoh, yang nantinya merasa tidak pernah dipercaya karena tidak diberikan kebenaran. Secara psikologi, saat dibohongi, Anda akan selalu merasa tidak layak untuk bertumbuh dewasa, karena orang lain selalu menutup-nutupi kenyataannya dari Anda. Maka jujurlah kepada anak. Jawablah pertanyaan anak dengan lugas menggunakan perbendaharaan kata, yang sebenarnya. Untuk menerangkan proses terbentuk dan lahirnya seorang bayi, gunakanlah kosa kata, seperti ‘vagina’, ‘penis’, ‘sperma’ apa adanya. Jangan pernah mengarang cerita, bahwa burung bangau yang datang dari langit membawa dan memberikan adik yang masih bayi untuk ibu dan ayah. Hilangkan hal-hal yang dapat mejadi pembodohan untuk si kecil.

Menjawab pertanyaan anak memang harus dilakukan setransparan dan selugas mungkin, sesulit apa pun itu. Namun perhatikan pula umur Anak. Tanyakan kembali dan perhatikan dengan cermat, sejauh mana si kecil ingin tahu. Bila ia bertanya “Dari mana bayi datang?” bisa saja ia hanya ingin tahu di rumah sakit dan kota mana ia lahir. Bahkan, mungkin hanya dengan menjawab, “Bayi datang dari perut mama,’ hal itu sudah memuaskan dirinya. Lain halnya, bila ia merasa hal itu kurang memuaskan dan semakin ingin tahu lebih detil, barulah Anda jelaskan lebih jauh secara rinci, bila perlu dengan menunjukkan gambar. Anggap saja Anda sedang memberikan mentor dalam kelas biologi mata pelajaran pendidikan seks dini untuk si kecil. Anak akan semakin merasa dekat, percaya dengan Anda dan kritis tanpa merusak moral.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE