Akibat Demam Negeri Sakura

0
86

.Kebudayaan Jepang yang unik membuat banyak orang jatuh hati kepadanya. Di Indonesia sendiri entah sudah berapa banyak komunitas yang terdiri dari sekumpulan anak muda yang ‘melestarikan’ budaya Jepang ini.

Atsuki J-Freaks Community dan Harajucka contohnya. Kedua komunitas ini berdiri di Yogya. Bedanya, Harajucka – yang berarti Harajuku Yogya – lebih membahas seputar fesyen Jepang, harajuku. Sedang Atsuki mempunyai misi menyatukan semua yang berhubungan dengan Jepang, seperti anime, tokusatsu, dorama, J-music, J-band, cosplay, J-culture, dan komunitas-komunitas lain yang mengusung kebudayaan Jepang.

Anda bisa menemui pentolan-pentolan Atsuki di jalan Magelang, Yogya, karena di situlah tempat mereka biasa berkumpul. Komunitas tersebut mengadakan beberapa kegiatan regular, yang bisa Anda datangi. Setiap dua bulan sekali, Atsuki mengajak para anggotanya untuk menonton film bersama-sama.

Selain menonton film, bila Anda sempat, luangkan waktu sebentar saja untuk sekedar berkenalan atau berbincang-bincang dengan mereka pada hari Sabtu sore. Pada waktu-waktu inilah anggota Atsuki kerap berkumpul.

Bermain musik juga menjadi salah satu sarana bagi mereka untuk menyalurkan rasa cinta terhadap kebudayaan Jepang. Dengarkan saja musiknya. Atsuki akan memainkan lagu-lagu dengan lirik, aransemen, dan nada-nada khas musik Jepang. Wajar saja, bila dinamakan J-music (Japan music).

Sejak 22 September 2005, Atsuki menjadi ‘oase’ bagi pecinta kebudayaan Jepang untuk saling berbagi pengalaman dan perasaan. Menarik dan cukup meresahkan. Akankah generasi muda Indonesia lebih mencintai kebudayaan negara lain dan justru mulai menanggalkan serta meninggalkan kebudayaan bangsanya sendiri?

(*Dari berbagai sumber)

SHARE