Pengorbanan Putri Mandalika dalam Bau Nyale

0
85

.Satu lagi tradisi unik yang menambah kekayaan ragam budaya di Indonesia, yakni festival Bau Nyale. Festival ini disebut juga sebagai ajang untuk menangkap nyale. Berasal dari daerah Lombok, dalam bahasa Sasak, bau berarti menangkap, sedang nyale merupakan jenis cacing laut yang hidup dalam lubang bebatuan di dalam laut.

Nyale termasuk makhluk hidup langka dan hanya didapati pada beberapa perairan tropis di dunia, seperti pantai Seger dan Kuta. Tak hanya langka, cacing laut ini juga memiliki tubuh yang indah berwarna-warni, dari mulai coklat, krim pucat, merah, hingga hijau. Festival Bau Nyale diadakan setahun sekali tiap bulan kesepuluh, tepatnya lima hari setelah kemunculan bulan purnama.

Layaknya kebudayaan tradisional pada umumnya di Indonesia, festival Bau Nyale pun muncul dan berawal dari sebuah legenda. Konon, pada zaman dahulu hidup seorang putri Kuripan bernama Mandalika. Paras putri Mandalika sangat cantik. Berita mengenai kecantikan sang putri tersebar hingga ke seluruh pelosok pulau. Banyak pangeran dan putra kerajaan jatuh hati pada Mandalika. Mereka berebut untuk mengambil hati putri dan menikahinya. Melihat hal ini, putri Mandalika menjadi sedih. Ia merindukan kedamaian yang dulu ada di dalam negaranya.

Untuk menciptakan kembali kedamaian tersebut, putri Mandalika mengorbankan dirinya. Ia bunuh diri dengan cara menjatuhkan dirinya ke dalam laut. Saat mencari jasadnya, banyak orang justru mendapati munculnya nyale atau cacing laut berwarna-warni indah di laut tempat putri Mandalika tewas tersebut. Maka, nyale dipercaya sebagai wujud reinkarnasi sang putri. Nyale yang mucul setiap tahun di pantai Seger dan Kuta dianggap sebagai putri Mandalika yang datang mengunjungi rakyatnya.

Festival dimulai saat hari mulai fajar. Acara berbalas pantun di antara muda-mudi mengawali keseluruhan rangkaian kebudayaan tersebut. Puncak acara diisi dengan drama legendaris mengenai kisah hidup putri Mandalika dari Kuripan. Drama dimainkan dengan megah menggunakan pakaian dan musik tradisional suku Sasak.

Menangkap cacing nyale diyakini dapat memberikan banyak keberuntungan saat masa panen tiba. Semakin banyak cacing yang mereka tangkap, semakin baik hasil panen mereka. Selain itu, nyale pun digunakan sebagai pupuk yang baik untuk tanaman padi di beberapa daerah. Untuk yang doyan, mereka akan menyantap nyale yang sudah mereka tangkap tersebut, matang ataupun mentah.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE