Merencanakan Pendidikan Sejak Dini

0
39

.Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Berani menikah dan punya anak, maka berani pula untuk menanggung biaya bagi masa depan pendidikan anak. Jangan seperti apa yang dikatakan oleh seorang pembawa acara pada sebuah program hiburan televisi swasta, berani berbuat berani minggat. Dari mulai anak masih balita, bahkan baru lahir,  Anda sudah harus memikirkan biaya untuknya saat dia besar nanti. Uang sekolah yang menjadi beban harus mulai direncanakan dalam suatu dana pendidikan, agar waktu yang tersedia untuk mengumpulkan dana sekolah dan kuliah cukup panjang.  
 
Ambil contoh perhitungan, dana yang harus terkumpul adalah Rp. 180 juta pada usia 18 tahun, maka apabila dimulai sejak anak baru lahir, Anda cukup mengumpulkan Rp. 10 juta per tahun atau Rp. 1 juta per bulan. Lain halnya jika Anda mengumpulkan dana pada saat anak masuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Otomatis Anda hanya memiliki waktu tiga tahun. Tiap tahun Anda harus mengumpulkan Rp. 60 juta. Ini berarti Rp. 5 juta per bulan. Lebih baik mulai sejak dini. Semakin lama frekuensi Anda menanamkan dana, semakin besar bunga tabungan yang akan Anda peroleh nanti, bukan?  
 
Untuk melakukan hal ini, Anda tidak bisa begitu saja asal menyisihkan dana. Perkiraan inflasi yang matang menjadi faktor penting dan penentu keberhasilan program ini. Biaya pendidikan akan semakin naik dari masa ke masa. Bisa saja untuk mengantarkan anak menuju sebuah universitas saat ini hanya membutuhkan dana Rp. 250 juta. Bagaimana saat 18 tahun atau 20 tahun mendatang? Tentu jumlahnya akan berlipat-lipat semakin besar.
 
Dana pendidikan bisa berupa tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan. Investasi pengambilan dana disesuaikan dengan jadwal masuk sekolah anak. Keduanya pun sama-sama memiliki fungsi proteksi. Jika terjadi resiko kematian pada Anda, anak akan tetap bisa bersekolah, karena ketersediaan dana pendidikan tetap terjamin.
 
Tabungan pendidikan adalah produk tabungan dari bank yang bisa Anda ikuti dengan menabung sejumlah uang tertentu secara rutin. Besarnya tabungan bulanan dihitung dari target dana pendidikan yang akan diambil nantinya. Untuk menjamin ketersediaan dana pendidikan di kemudian hari, bank bekerja sama dengan perusahaan asuransi untuk menjamin tersedianya setoran, meski terjadi resiko kematian.
 
Di lain pihak, asuransi pendidikan merupakan asuransi, yang memberikan dua fungsi (baca: asuransi dwiguna), yakni fungsi proteksi dan investasi. Asuransi akan melindungi dengan menanggung resiko kematian menjanjikan sejumlah tertentu uang jika Anda mengalami kematian. Pada umumnya, uang pertanggungan yang akan diberikan disesuaikan dengan biaya pendidikan anak yang sudah disepakati dalam polis. Sedang fungsi investasi dilaksanakan dengan mengelola dan menginvestasikan sebagian premi yang Anda bayarkan. Sebagai gantinya, perusahaan asuransi akan memberikan sejumlah dana yang besarnya sudah disepakati dalam polis. Waktu pembayaran dijadwal dalam polis, agar sesuai dengan waktu sekolah si anak.
 
Untuk mendaftarkan diri ke dalam suatu asuransi atau membuka polis untuk dana pendidikan, perhitungkan dahulu berapa Rupiah dana yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anak ke sekolah atau universitas idaman. Perkirakan juga perubahan inflasi yang akan terjadi. Setelah itu, tentukan berapa uang pertanggungan yang dibutuhkan dari polis untuk mencapai nominal sejumlah tersebut.
 
Hitung pengeluaran bulanan Anda. Angka ideal untuk menentukan besarnya uang pertanggungan adalah 100 kali jumlah pengeluaran bulanan. Contoh, jika pengeluaran bulanan anda adalah 5 juta, maka uang pertanggungan yang ideal adalah Rp. 500 juta. Bila jumlah tersebut terlampau besar untuk Anda, carilah produk asuransi dengan preminya murah, namun menghasilkan uang pertanggungan yang besar.  
 
Polis jenis whole life kemungkinan akan ‘memukul Anda’ dengan uang pertanggungan yang besar. Anda bisa beralih ke asuransi pendidikan term life. Atau, turunkan saja standar uang pertanggungan Anda. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum memulai asuransi. Ambillah polis asuransi sesuai karakter dan time frame Anda. Apa anda seorang risk taker atau safe player? Kapan Anda berencana menggunakan uang tersebut?  
 
Premi asuransi pendidikan dapat dibayar per bulan, per riga bulan, per semester, hingga per tahun. Bila mempunyai dana besar, Anda dapat menyetorkan keseluruhan dana sekaligus. Minta bantuan seorang agen asuransi untuk menjelaskan secara rinci skema investasi sesuai kebutuhan nasabah.
 
Jangan asal percaya terhadap suatu perusahaan asuransi. Banyak perusahaan ‘nakal’ yang suka mempersulit keluarnya dana jika terjadi klaim. Selidiki terlebih dahulu reputasi perusahaan, dilihat dari laporan keuangannya. Setiap tahun, pemerintah mewajibkan perusahaan asuransi memublikasikan laporan keuangan yang telah diaudit di media massa. Dalam laporan keuangan itu, perusahaan asuransi harus mencantumkan RBC (Risk Based Capital). RBC adalah ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada nasabah. Setiap perusahaan memiliki RBC berbeda-beda. Semakin besar RBC-nya, semakin kuat kemampuan keuangan perusahaan menanggung kewajibannya. Syarat minimum perusahaan asuransi yang sehat adalah memiliki RBC di atas 120 persen.
 
Selain itu, perusahaan asuransi harus melaporkan kondisi keuangan dan perusahaannya kepada pemerintah tiap tiga bulan sekali. Pemerintah akan melihat apakah perusahaan asuransi tersebut dikelola dengan baik atau tidak? Khusus produk syariah, DPS (Dewan Pengawas Syariah) akan mengawasi, agar benar-benar sesuai dengan pengelolaan syariah.
 
Rating juga dapat dijadikan pertimbangan. Kemampuan keuangan sebuah perusahaan asuransi untuk membayar kewajibannya tercermin melalui rating perusahaan tersebut. Beberapa lembaga rating independen memberikan penilaiannya berdasarkan laporan keuangan perusahaan.  
 
Tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan? Itu terserah Anda. Mengapa tidak menggabungkan keduanya? Tabungan pendidikan untuk kebutuhan jangka pendek dan asuransi pendidikan untuk jangka panjang.
 
Saran Ghiboo, jangan terlalu mengandalkan dana pendidikan untuk anak dengan berinvestasi pada emas. Harga emas hanya akan naik, bila terjadi tiga hal, yaitu kenaikan harga Dollar, melonjaknya harga barang-barang, jasa pada umumnya, serta inflasi, dan terjadinya kerusuhan sosial. Lebih baik emas digunakan untuk mama papa-nya saja.
 
(*Dari berbagai sumber)

SHARE