Eternal Ninja

0
29

.Berpakaian ala teater Kabuki dengan keseluruhan warna hitam, rapat menutupi seluruh bagian tubuh, kecuali mata, itulah ninja. Benarkah ninja pernah hidup? Sejak kapan komunitas unik ini muncul di Jepang? Mengapa sekarang ninja hanya sekedar ‘sejarah’?
 
Pada awalnya, ninja disebut shinobi. Tidak jelas, kapan tepatnya kemunculan ninja pertama kali ini. Jepang mempunyai dua komunitas bersejarah, yakni samurai dan ninja. Bila samurai identik dengan ‘kehormatan’, maka ninja sebaliknya. Ninja akan melakukan segala daya upaya untuk menuntaskan pekerjaannya, baik dengan cara ‘bersih’ maupun ‘kotor’. Samurai selalu bertentangan dengan ninja. Kelincahan, kelicikan, serta banyaknya keahlian lain yang dimiliki para ninja membuat mereka sering disewa menjadi mata-mata dan pembunuh bayaran tingkat tinggi. Keahlian mereka yang disebut ninjutsu ini berkembang antara tahun 600-900 setelah Masehi. Pangeran Shotoku pada tahun 574-622 tercatat pernah mempekerjakan seseorang bernama Otomono Sahito sebagai shinobi mata-mata.
 
Meski berbeda negara, kenyataannya kelahiran ninja tidak dapat dipisahkan dari negeri tirai bambu, Cina. Pada tahun 850, dinasti Tang di Cina mengalami keruntuhan yang menyebabkan kekacauan selama 50 tahun di sana. Kala itu banyak jenderal melarikan diri menyeberangi lautan menuju Jepang. Pada masa pelarian itulah mereka menciptakan taktik dan filosofi baru mengenai perang. Tidak hanya jenderal, para biksu Cina pun bersinggahan ke Jepang sekitar tahun 1020-an. Mereka membawa gaya pengobatan dan filosofi berperang yang baru. Kebanyakan ide diciptakan oleh para biksu saat mereka berada di India sebelum mencapai Jepang. Biksu-biksu tersebut mengajarkan metode terbaru mereka kepada prajurit biksu Jepang, Yamabushi. Yamabushi merupakan klan ninja yang pertama kali terbentuk di dunia.
 
Selama lebih dari seratus tahun, percampuran antara taktik yang dibawa kaum Cina dengan bangsa Jepang menjelma menjadi suatu keahlian khusus, yang disebut ninjutsu. Perlu ditekankan, bahwa dalam ninjutsu tidak terdapat suatu aturan apapun. Taktik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Daisuke Togakure dan Kain Doshi. Sebelum menjadi seorang ninja, konon Daisuke merupakan seorang samurai. Kalah dalam suatu pertarungan perebutan kekuasaan, Daisuke pun kehilangan wilayah kekuasaan dan gelarnya sebagai seorang samurai. Bukannya bunuh diri layaknya samurai yang terhormat, ia justru melarikan diri. Saat sedang menjelajah ke sebuah gunung di sebelah barat daya daerah Honshu – pada tahun 1162 – Daisuke bertemu seorang prajurit biksu Cina, Kain Doshi. Daisuke pun meninggalkan kode kehormatannya sebagai samurai, bushido, kemudian bergabung bersama Kain Doshi menciptakan taktik perang gerilya, bernama ninjutsu. Keturunan-keturunan dari Daisuke mendirikan sekolah ninja untuk yang pertama kalinya, Togakureryu.
 
Ninja dengan ninjutsu sebagai keahliannya dan bushido sebagai kode etik samurai benar-benar bertolak-belakang. Seperti telah disebutkan di atas, samurai mengedepankan nilai-nilai kesetiaan dan kehormatan dalam setiap tingkah lakunya. Dalam suatu medan pertarungan, seorang samurai akan memilih sseorang menjadi musuhnya, bukan dengan keroyokan. Sebelum terjadi pertarungan, dia akan mengirimkan sebuah tantangan untuk berkelahi, baru kemudian menyerang musuhnya. Dalam hal berpakaian, samurai cenderung menggunakan warna-warna terang untuk semakin menunjukkan identitas klannya, berbeda dengan ninja yang sengaja menggunakan kostum hitam-hitam agar tidak terlihat keberadaannya. Kode bushido benar-benar mulia. Ironisnya, seorang samurai tidak selalu dapat menyelesaikan misinya, justru akibat terhambat aturan-aturan dalam bushido. Keberadaan samurai terancam dengan munculnya ‘kode etik’ kaum ninja, ninjutsu. Satu-satunya hal yang penting dalam ninjutsu adalah menyelesaikan tugas, apapun dan bagaimanapun caranya. Menyerang secara diam-diam, meracuni, membujuk, memata-matai, dan segala hal yang dianggap tabu oleh para samurai justru dilakukan oleh ninja. Selama pekerjaan beres, maka semua hal tersebut dianggap ‘halal’ dalam ninjutsu.
 
Beberapa jonin (baca: pemimpin ninja) merupakan ‘orang-orang tidak terhormat’, seperti Daisuke Togakure. Mereka kalah dalam peperangan dan diusir oleh daimyo (baca: pemimpin klan samurai) masing-masing, namun justru melarikan diri, bukannya bunuh diri (seppuku). Para ninja pada umumnya tidak berasal dari kalangan kaum ningrat. Mereka hanya penduduk desa biasa dan kaum petani. Mereka mempelajari bela diri demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Daerah kekuasaan ninja yang terkuat terletak di dua tempat, yakni provinsi Iga dan Koga. Tidak hanya lelaki, perempuan pun banyak yang menjadi ninja. Perempuan-perempuan ninja disebut kunoichi. Mereka menyusup masuk ke daerah lawan dengan menyamar menjadi selir, penari, dan pelayan. Jangan terkecoh dengan sisi lembut mereka, karena mereka sangat licik dalam memata-matai dan merupakan pembunuh bayaran tinggi berdarah dingin.

Terdapat tiga klan ninja terkuat dan terkenal di Iga, yakni Hattori, Momochi, dan Fujibayashi. Pemimpin-pemimpin mereka adalah Hattori Hanzo, Momochi Tambanokami, dan Fujibayashi Nagatonokam. Iga sebelah barat dikuasai oleh Hattori, sedang Momochi ‘memegang’ daerah Iga selatan. Berbeda dengan Hattori dan Momochi, Fujibayashi mengontrol daerah timur laut Iga.

Mungkin memang benar, bila dikatakan, bahwa dalam politik dan peperangan tidak ada ‘cara bersih’. Meski ‘berlindung’ di balik kode etik bushido dengan segala kehormatannya, seorang samurai seringkali menyewa jasa ninja untuk melakukan pekerjaan kotornya. Di satu sisi, samurai membenci ninja, namun membutuhkannya di sisi lain. Menyewa jasa ninja, maka ninja kelas bawahlah yang akan melaksanakan hal tersebut. Petinggi ninja akan memerintah chunin (baca: ninja kelas menengah). Chunin kemudian akan memberikan perintah pada genin (baca: ninja kelas bawah) untuk melakukan eksekusi.
 
Era ninja diperkirakan bergejolak antara tahun 1336 dan 1600. Keahlian ninja dalam berperang dibutuhkan oleh seluruh kubu, sementara ninja sendiri tidak berpihak dan setia kepada siapa pun. Hanya pihak yang berani membayarnya mahallah yang akan mendapatkan keuntungan dari kehebatan para ninja. Pada periode Sengoku, kaum ninja dirasa sangat mengancam kekuatan daimyo terbesar pada masa itu, Oda Nobunaga, dalam mempersatukan seluruh wilayah Jepang. Iga dan Koga merupakan wilayah paling penting untuk menghancurkan ninja. Nobunaga pun menyerang Iga dengan kecepatan tingkat tinggi dan pada siang hari. Hal ini memaksa para ninja di Iga untuk melakukan perlawanan dalam pertarungan terbuka. Ninja pun berhasil dihancurleburkan. Mereka berpencar dan banyak yang melarikan diri ke provinsi-provinsi terdekat atau ke pegunungan Kii. Ninja tidak sepenuhnya musnah. Sebagian masuk dalam organisasi Tokugawa Ieyasu, yang kemudian dikenal dengan sebutan shogun pada tahun 1603. Ninja berakhir hanya menjadi suatu sejarah saat periode Edo dimulai pada tahun 1603-1868. Masa inilah mulai muncul kedamaian dan stabilitas di Jepang.

Komunitas ninja mungkin sudah ‘punah’, namun tidak halnya dengan ninjutsu. Dalam dunia kerja, politik pemerintahan, dan di segala bidang Anda akan selalu menemukan semangat dan teknik ninjutsu dari orang-orang sekitar Anda. There’s always a ninja within each human being.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE