Istri Siri Hanya Berhak Iri

0
46

.Berpacaran menjadi tahapan dua insan yang dimabuk cinta sebelum menuju jenjang pernikahan. Sebagai seorang wanita, sudah tidak zamannya lagi, Anda menjadi pihak yang dirugikan dalam suatu hubungan. Anda dan pasangan adalah partner (baca: rekan) yang sejajar.

Jadilah calon istri dan istri yang pintar, nantinya. Sekarang ini sedang hangat di media massa memberitakan kasus Kyai Haji Zainuddin M.Z. yang dituduh oleh Aida Saskia telah memperkosa dirinya, meski Da’i sejuta umat tersebut telah menawarkan dilangsungkannya pernikahan siri.

Lepas dari berita miring yang tidak jelas kebenarannya tersebut, sebagai seorang perempuan, Anda harus pintar dalam menghadapi tawaran menikah siri. Lihat dulu, apa alasan di balik pernikahan tersebut? Mengapa tidak menikah sipil sekalian? Apa kelebihan dan kekurangan pernikahan siri?

Apa Anda terlibat hubungan mesra dengan lelaki yang telah beristri? Lelaki beristri sering menjadikan pernikahan siri sebagai tamengnya untuk ‘lepas tanggung jawab’, khususnya secara ekonomi terhadap orang yang ia nikahi tersebut.

Setelah menikah siri, jangan disangka Anda memiliki hak sepenuhnya, layaknya menjadi seorang istri yang sah di mata hukum atau negara. Sang lelaki tidak memiliki kewajiban terhadap istrinya untuk memberikan nafkah lahir batin, penghasilan, dan penghidupan untuk anak Anda berdua di kemudian hari.

Tidak hanya itu, bila pernikahan Anda tersebut tidak berakhir bahagia, atau dengan kata lain terjadi perpisahan, Anda pun tidak berhak menerima tunjangan nafkah dan pembagian harta gono-gini sebagai seorang mantan istri. Sama halnya jika suami meninggal, Anda tidak akan mendapatkan sepeser pun sebagai warisan. Tidak hanya Anda, anak pun tidak akan mendapatkannya. Mengapa? Anak hasil hubungan siri hanya memiliki hubungan hukum dengan sang ibu, bukan dengan ayahnya.

Lebih lanjut, dalam pernikahan siri banyak sekali hal-hal ‘miring’ sebagai pemicu terjadinya perkawinan tersebut. Mungkin pasangan atau bahkan Anda berdua tidak ingin istri sah sang lelaki mengetahui dan mencium adanya affair di antara Anda berdua, sementara Anda dan kekasih ingin terus melanggengkan hubungan gelap tersebut?

Hati-hati. Bila istri sah dari kekasih mengetahui hal ini, Anda berdua bisa dilaporkan atas dasar tindakan pidana kejahatan dalam perkawinan, yang terdapat pada pasal 279 ayat 1 KUHP. Tidak hanya itu, Anda juga akan terseret kasus pidana perzinaan, yang mengacu pasal 284 ayat 1 KUHP.

Pernikahan siri bertentangan dengan hukum negara. Hal ini terbukti juga dengan munculnya RUU UU Pasal 143 yang menyatakankan, bahwa setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak di hadapan pejabat pencatat nikah dipidana dengan ancaman hukuman bervariasi, mulai dari enam bulan hingga tiga tahun dan denda mulai dari Rp. 6 juta hingga Rp. 12 juta.

Apa yang sebenarnya Anda cari dari pernikahan siri? Kenikmatan seks yang dihalalkan? Murahnya biaya pernikahan? Atau praktisnya proses pernikahan? Siapa yang sebenarnya hendak Anda bohongi di sini? Orang lain? Masyarakat? Negara? Hukum? Norma? Diri sendiri?

Coba pertimbangkan kembali, apakah arti sebuah pernikahan hanya sekedar pengesahan aktivitas seks? Tidakkah Anda juga harus memikirkan masa depan anak, nantinya dari segi ekonomi, pendidikan, dan masih banyak lagi? Tahukah Anda, bila pernikahan siri yang tidak dihadiri dan dinikahkan oleh wali dari pihak perempuan di hadapan penghulu dianggap tidak sah?

Jangan asal menikah. Hargai diri Anda sendiri agar orang lain bisa ikut menghargai Anda. Apa pun pilihan Anda, be smart, Girls!

(*Dari berbagai sumber)

SHARE