Malam Istimewa di Surakarta

0
64

.Berjalan-jalan ke daerah Jawa Tengah, kurang lengkap bila belum menjambangi Surakarta. Hitung hari-hari dalam bulan Ramadhan hingga malam ke-21. Malam ke-21 pada bulan Ramadhan, pastikan Anda sudah berada di Surakarta, tepatnya di daerah sekitar Keraton.

Mengapa dan ada apa dengan angka 21 tersebut? Selain memiliki Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi, orang Jawa juga mempunyai perhitungan unik untuk menentukan tanggal terjadinya peristiwa-periwtiwa suci atau sakral.

Malem Selikuran, contohnya. ‘Malem‘ dalam bahasa Jawa berarti ‘malam’, sedang ‘selikuran‘ menandakan hitungan ke-21. Malem Selikuran adalah malam ke-21 di bulan Ramadhan yang dipercaya sebagai malam penuh kekuatan. Itulah mengapa malam ini selalu dinanti-nanti banyak orang.

Pada malam istimewa ini, biasanya Raja Surakarta Hadiningrat dan Solo akan melaksanakan perayaan tradisional, yakni Kirab Seribu Tumpeng. Posesi ini akan digelar dari depan halaman Pagelaran istana Surakarta ke jalan Slamet Riyadi, hingga Taman Sriwedari, Solo. Ketiga tempat ini terletak di Surakarta, Jawa tengah.

Tradisi ini untuk merayakan malam Lailatul Qadar yang dipercaya sebagai malam yang paling baik dalam seribu hitungan bulan. Nasi tumpeng berjumlah seribu menjadi simbol dari seribu bulan tersebut. Selain itu, para warga juga menyambut malam ini untuk bersyukur, memberikan persembahan serta memohon perlindungan kepada Maha Pencipta.

Prosesi upacara dimulai dengan serombongan prajurit kerajaan membawa simbol kebanggaan Keraton. Di belakang mereka terdapat puluhan perempuan yang mengenakan kebaya berwarna-warni, yakni pakaian tradisional untuk para perempuan Jawa. Perempuan-perempuan ini menyanyikan lagu-lagu Jawa yang mengandung banyak pesan dalam agama Islam. Rombongan terakhir adalah kereta kuda bernama Retno Puspito dan Retno Juwito yang mengangkut keluarga kerajaan.

Pelestarian kebudayaan ini akan terus mengabadikan gegap gempita masyarakat Jawa pada masa lampau.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE