Kerokan; Populer di Semua Kalangan

0
68

.Bila tubuh mulai terasa pegal, kepala terasa berat, perut kembung, kepala pusing, berkunang-kunang dan seperti ingin muntah, kemungkinan besar anda sedang masuk angin. Meskipun terdengar lumrah, untuk orang barat, penyakit masuk angin dianggap hal yang tidak lazim bahkan terdengar menggelikan. Terlebih saat mereka mengetahui bahwa kebanyakan orang Indonesia mengatasi masuk angin dengan kerokan. Kerokan populer di semua kalangan.

Di barat, apa yang kita anggap sebagai masuk angin adalah flu. Gejalanya kurang lebih sama, hanya saja mereka lebih memilih sup panas, vitamin c, obat flu dan tidur berbungkus selimut. Sementara kita lebih percaya diri merelakan tubuh kita dikerok menggunakan koin, hingga akhirnya kita buang angin atau bersendawa.

Meskipun kerokan sering dianggap tidak masuk akal, namun sebenarnya banyak orang barat yang kemudian percaya keampuhan kerokan, bahkan mempelajari metode kerokan ini di berbagai tempat di Jawa. Intinya, mereka mempelajari kerokan ini hingga ke prinsip penyembuhannya. Sebagai pemilik asli tradisi kerokan, tentunya kita jangan sampai kalah tahu, bagaimana sebenarnya kerokan bisa menyembuhkan ‘masuk angin’.

Prinsip kerokan, sebenarnya mirip dengan prinsip pemanasan ala akupuntur atau terapi kop tanduk/tabung. Dengan kerokan, berarti kita memberikan rangsang pada kulit agar meningkatkan temperatur dan energi pada daerah yang dikerok tersebut. Saat dikerok, kulit mengirimkan rangsang kepada otak, yang kemudian diteruskan kembali kepada organ supaya memperbaiki kondisinya.
 
Lebih mudahnya mungkin begini, saat masuk angin, ditengarai pembuluh darah yang ada di kulit menguncup/membeku karena kedinginan atau kurang gerak. Dengan dikerok, pembuluh darah menjadi terbuka dan aliran darah kembali mengalir dengan lancar dan bahkan lebih keras. Pembuluh darah yang terbuka dan pecah inilah yang menimbulkan efek garis-garis merah. Memang pada saat pembuluh darah pecah karena dikerok, kita akan merasa sedikit perih pada kulit. Tetapi penambahan arus darah ke permukaan kulit ini kemudian meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus.

Supaya kulit tidak lecet, kerokan disarankan menggunakan alat bantu benda yang tumpul, seperti uang logam atau tulang berbentuk bulat pipih. Sementara untuk memberi efek hangat dan melicinkan, biasanya menggunakan balsam, minyak urut, atau yang lebih tradisional yaitu potongan bawang merah dicampur jahe.
 
Kerokan baiknya dilakukan dari arah atas ke bawah, atau bisa juga mendatar. Bila memiliki pengetahuan akupuntur, kerokan akan berfungsi maksimal bila caranya disesuaikan dengan penyakit yang diderita. Setelah kerokan selesai, jangan mandi! Karena pada saat itu pori pori kulit sedang terbuka.

Skema sederhananya :
Masuk angin (pori-pori menguncup karena dingin)–> kerokan–> pori-pori terbuka dan aliran darah lebih lancar–> mekanisme pertahanan tubuh meningkat.

Meskipun banyak yang membuktikan keefektifannya, terlalu sering kerokan juga dinilai tidak bagus. Karena secara medis, kerokan akan memperlebar pembuluh darah tepi. Terlalu sering kerokan hanya akan membuat pembuluh darah halus makin banyak yang pecah. Intinya, yang terlalu banyak memang tidak baik.

Jika setelah kerokan anda masih merasa sakit, bisa jadi ini adalah penyakit yang lebih serius daripada ‘masuk angin’. Segera periksakan kepada orang yang ahli. Meski begitu, semoga dengan kerokan saja, anda sudah bisa mendengar ‘bunyi-bunyian’ yang menandakan angin dalam tubuh anda sudah keluar.

(sumber : berbagai sumber)

SHARE