Lego Rasis?

0
40

.Bermain boneka dan menggerak-gerakkan mereka dengan mengisi suara menjadi beberapa karakter sungguh menyenangkan. Tidak hanya boneka yang terbuat dari kain, hal ini juga dapat Anda mainkan pada boneka yang terbuah dari plastik keras berbentuk orang-orangan kecil, Lego. Namun, pernahkah Anda menemui karakter Lego yang berwajah hitam atau merah? Hampir semua wajah Lego berwarna putih-kekuningan. Apa ini tanda-tanda masih adanya rasialisme dalam bentuk Lego?

Pada pertunjukan seni OKCupid, yang berlangsung September 2010 lalu, Chris Mc Veugh, seorang seniman yang hadir sebagai bintang tamu, mengungkapkan fakta yang mengejutkan, bahwa hampir semua karakter wajah Lego yang tidak berwarna putih-kekuningan, cenderung memiliki mimik cemberut.

Brand Relation Manager
dari Lego, Michael Nally, melakukan pembelaan dengan menjelaskan, bahwa pemilihan warna putih-kekuningan pada Lego adalah agar terkesan netral. Bila warna kulit mereka netral, maka Lego-Lego tersebut bisa dimainkan menjadi siapa saja, menjadi bangsa mana saja, di mana saja, dan kapan saja.

Kenyataannya, pada tahun 1999, Lego memproduksi satu set tokoh-tokoh dalam Star Wars. Satu set Lego Star Wars ini dirilis pada saat dimulainya trilogi film tersebut, Phantom Menace. Sayangnya, tidak semua tokoh terdapat dalam Lego tersebut. Karakter Lando disebut-sebut tidak muncul, karena wajahnya tidak pantas dan tidak cocok diberi warna putih-kekuningan, mengingat pada filmnya, Lando diperankan artis berdarah Afro-American.

Kritikan pada Lego Star Wars diperbaiki dengan menciptakan Lego-Lego yang merepresentasikan para pemain basket terkenal dunia dari NBA (National Basketball Association). Banyak karakter Lego dibuat berwarna coklat-hitam seperti aslinya. Meski pemain basket NBA tidak terlalu ‘menghasilkan’ banyak keuntungan saat ini, namun tindakan ini menjadi langkah penting bagi Lego untuk menunjukkan kepada dunia mengenai kebijakan Lego yang tidak rasis. Mc Nally mengungkapkan, bahwa mereka akan menciptakan miniatur klien mereka seakurat mungkin agar terlihat nyata.

Tahun 2004, Lego menciptakan lagi tokoh Star Wars untuk kepentingan film prequels. Tokoh Master Windu yang diperankan seorang Afro-American, Samuel L.Jackson, turut diciptakan. Sayangnya, banyak orang berpikir mimik muka Master Windu versi Lego cemberut dan tidak ramah, padahal kesan yang ingin ditampilkan sebenarnya adalah raut muka seorang Jenderal yang tegas, karena selalu menghadapi kerasnya pertempuran.

Lego, seperti halnya Hollywood, sepertinya lebih suka mengeluarkan lebih banyak biaya dan kreasi yang memuaskan untuk menciptakan karakter-karakter ‘putih yang baik’, dibanding karakter minoritas yang kerap mewakili ‘kejahatan’.

Rasis atau tidak, Lego tetap saja jenis mainan yang menggemaskan.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE