Menemani Masa Senja Orangtua

0
40

.Semakin bertambahnya umur, Anda semakin merasa cukup dewasa untuk bersikap dan membuat keputusan. Kesuksesan demi kesuksesan yang tercapai Anda cap hanya sebagai jerih payah Anda sendiri. Lupakah Anda terhadap jasa dan budi baik orangtua selama ini? Tegakah Anda ‘meninggalkan’ orangtua menghadapi masa-masa senja mereka sendirian?

Apa pun alasannya, satu hal yang perlu Anda ingat, orangtua tidak akan pernah berniat mencelakakan anaknya sendiri. Sewaktu Anda kecil, mungkin orangtua tidak banyak meluangkan banyak waktu berkumpul bersama Anda dan saudara-saudara yang lain, karena sibuk bekerja. Uang. Hanya itu yang ada di pikiran orangtua. Kini saat mulai dewasa, giliran Anda ‘meninggalkan’ orangtua yang sudah semakin renta dengan tujuan balas dendam agar mereka merasakan apa yang Anda rasakan waktu masih kecil. Stop! Jangan berpikir negatif terlebih dahulu. Pernahkah terpikir dalam benak Anda, bahwa kesibukan mencari uang 24 jam tanpa henti dilakukan oleh mereka semata-mata agar Anda tidak kelaparan, dapat menikmati kehidupan yang layak, dan pendidikan setinggi-tingginya? Terbayangkah di kepala Anda, bila sekarang mereka sering menangis seorang diri, karena segala niat baik untuk Anda selama ini, justru menjadi ‘hukuman’ di hari senja mereka?

Sudah sepatutnya orangtua mencintai anak-anak mereka. Pun, Anda sebagai anak harus berbakti dan menyayangi dengan tulus kedua orangtua, meski mereka semakin menyusahkan dan menjengkelkan ketika kulit mereka mulai muncul banyak keriput, bahkan, meski Anda sendiri sudah cukup disibukkan dengan segala pekerjaan kantor dan kehidupan rumah tangga kecil yang baru saja Anda bentuk. Bila dulu mereka merawat dan menjaga hingga Anda benar-benar mandiri dan dewasa, kini saatnya Anda membantu mengatasi permasalahan fisik dan batin mereka.

Orang berusia lanjut rentan terhadap depresi. Mereka mudah sedih dan stres karena memikirkan sesuatu. Suasana hangat dan kekeluargaan sangat dibutuhkan, agar orangtua merasa bahagia dan diperhatikan. Selain itu, ajari anak-anak Anda untuk menghormati dan menyayangi kakek nenek mereka. Jika orangtua sudah mengalami penurunan pendengaran, lebih baik mendekatkan diri ketika berbicara pada mereka. Jangan pernah membentak orangtua. Hal tersebut akan melukai hati mereka. Bila mereka bisa cukup sabar mengahadapi tingkah ‘gila’ Anda dari mulai lahir hingga dewasa, mengapa Anda sehari saja tidak bisa menghadapi keinginan uniknya untuk terus menanyakan siapa nama anak semata wayang Anda, yang telah dijawab belasan kali sebelumnya, misalnya?

Semakin tua orangtua, semakin menurun pula kesehatan mereka. Ajak mereka berolahraga bersama. Lakukan aktivitas sederhana dengan gerak jalan pagi. Sertakan juga cucu-cucu mereka agar lebih ramai dan akrab, sehingga orangtua semakin bahagia ditemani seluruh anggota keluarga. Hati yang bahagia berdampak positif bagi kesehatan seseorang. Masih mengenai kesehatan, bila dulu Anda tahu seberapa manja dan berlebihannya orangtua saat masuk angin, sehingga Anda kerap tidak memperdulikan mereka, maka kini Anda tidak bisa lagi bersikap seperti itu. Ya, 10-20 tahun lalu, mungkin masuk angin menjadi hal yang terlalu dilebih-lebihkan oleh orangtua. Tapi tidak di usia mereka yang semakin renta sekarang ini. Tubuh mereka tidak sekuat dulu lagi. Jangan sepelekan keluhan fisik orang lanjut usia, sekecil apapun itu.

Semakin tua seseorang, semakin ia merasa kesepian, karena tidak ada orang yang mau menemaninya, sekedar mengajaknya berbicara. Mungkin, sekarang ini orangtua Anda di rumah, atau di luar kota sedang menahan rindu kepada Anda namun tidak memberitahukannya. Alasannya, karena mereka takut mengganggu Anda. Namun, apakah benar Anda merasa terganggu dan rugi puluhan milyar Rupiah, bila menerima sebuah pesan singkat dari orangtua atau telepon dari mereka, yang bernada “Nak, ayah dan ibu kangen sekali sama kamu.”

Keinginan dan cita-cita orangtua di usia mereka yang sudah semakin lanjut hanyalah kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian hidup di tengah-tengah anak cucu. Akibat pekerjaan, Anda terpaksa tinggal beda kota dari rumah orangtua. Mulailah tidak memasang tampang masam, saat orangtua menuntut ‘kehadiran’ dan ‘bantuan’ bertubi-tubi sesaat setelah Anda baru saja menginjakkan kaki kembali ke rumah orangtua pada saat liburan. Seperti Anda waktu kecil, mereka pun tidak sabar ingin segera ‘bermain’ bersama Anda. Mereka sudah akan merasa sangat bahagia, bila Anda mengajak, mengantarkan, dan menemaninya ke pasar, atau cukup dengan menemaninya bercengkerama menjelang matahari terbenam. Lakukan hal tersebut sebelum semua menjadi penyesalan.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE