Bertingkah Konyol Demi Menghindari Mati Konyol

0
24

.’Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya’. Peribahasa tersebut berarti setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda, maka kita harus menyesuaikan diri dan menghormati adat-istiadat yang berlaku di daerah tersebut, seperti yang terdapat dalam peribahasa ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Sebagai seorang turis, Anda harus menghargai dan menghormati kebiasaan, aturan, dan kepercayaan mistik yang berlaku di daerah atau tempat Ada berwisata. Mungkin Anda sering menganggap aneh, konyol, dan menyepelekan larangan warga lokal.

Sebagai contoh, di daerah Poso, Sulawesi Tengah, masyarakat setempat tidak ada yang berani membakar udang, karena hal ini diyakini akan mendatangkan bencana kematian bagi yang melakukannya. Contoh lain adalah larangan memakai pakaian berwarna hijau ketika berada di pantai laut selatan. Bila melanggarnya, siap-siap saja kehilangan nyawa.

Kedua contoh ini memang hanya sebatas mitos dan sangat tidak masuk akal, meski telah terdapat beberapa kejadian yang ‘membuktikan’ kebenaran mitos tersebut. Terlebih, mengingat besarnya pengaruh dan kekuatan mistik di daerah-daerah terpencil. Bukankah lebih baik melakukan tindakan konyol, daripada mati konyol?

Apakah sekarang Anda bertanya-tanya, selain alasan mitos, mengapa Anda harus menaati segala aturan – bahkan aturan konyol dan tidak logis – saat berada di daerah orang lain? Sekedar informasi, daerah yang benar-benar primitif, kolot, dan terpencil, pada umumnya terusik, tidak menyukai, dan tidak nyaman dengan kehadiran ‘pendatang’.

Suku asli baduy, misalnya, pada salah satu jejaring sosial berbasis blog mengatakan, bahwa kedatangan para wisatawan sering mengganggu kehidupan tradisional mereka. Mereka menganggap kedatangan wisatawan akan merusak tatanan konvensional yang telah ada, dengan mulai bermunculan banyak penginapan, tempat permainan, dan segala tempat yang mengundang hingar-bingar. Tempat-tempat hiburan ini mengganggu ketenangan penduduk setempat. Penduduk lokal tentu tidak bermimpi menjadikan tempat tinggal mereka layaknya Vegas, yang penuh sesak dengan segala hal duniawi. Masalah lain adalah sifat umum para turis yang selalu ingin mengabadikan moment dan pemandangan indah yang mereka temui melalui kamera. Jangan menganggap setiap orang akan senang diambil gambarnya. Suku Baduy membenci hal ini, karena mereka merasa seperti binatang, yang cuma dijadikan obyek tontonan.

‘Bermain’ ke area orang lain, memang tidak boleh sembarangan. Usahakan selalu ramah dan menyapa warga setempat yang Anda temui. Ucapkan terima kasih dan minta tolong dalam berkomunikasi. Tanamkan dalam benak Anda untuk selalu meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu di tempat itu. Mencium, misalnya, menjadi akar sebuah polemik besar antara wisatawan asing (barat) dan perempuan penari penyambut wisatawan Bali, yang mengundang kemarahan warga Bali lainnya.

Sebenarnya, ciuman adalah simbol kasih sayang. Beberapa orang menganggap hal itu personal, sedang yang lain melihat hal tersebut hanya sebagai lambang pertemanan, ucapan terima kasih, atau sekedar tanda perkenalan. Alasan turis asing tersebut langsung mencium penari itu sebenarnya hanya untuk bersikap ramah dan bersahabat. Namun, karena tidak bertanya dan meminta izin terlebih dahulu, sang penari justru merasa risih dan warga lain menganggap hal itu sebagai sebuah pelecehan yang merusak kesucian.

Meski terasa konyol, sebelum menginjakkan kaki ke tanah orang lain, pelajari dan cari tahu terlebih dahulu mengenai kebudayaan dan adat istiadat daerah tersebut agar Anda terhindar dari masalah. Jangan sampai masa liburan Anda menjadi bencana.

(*Dari berbagai sumber)

SHARE