Dipenjara Akibat Asyik Bermain

0
39

.Akhir pekan menjadi waktu yang paling tepat untuk menghabiskan liburan dengan melakukan piknik atau berjalan-jalan dengan anak. Berbeda halnya, bila Anda seorang wiraswasta atau dapat bekerja dari rumah. Hampir setiap hari, mungkin, Anda bisa bermain dengan si kecil. Cuci mata sembari mengajak makan anak di mall, melihat-lihat beraneka macam satwa, menonton film di bioskop, atau pergi ke taman ria dapat dijadikan pilihan untuk bersenang-senang dengan buah hati.

Menghabiskan waktu bersama si kecil memang sangat menyenangkan, namun bisa juga menjadi hal yang fatal, bila Anda tidak benar-benar membimbingnya. Banyak kasus yang sering Anda dengar, tentunya, mengenai kecelakaan hingga kematian seorang anak yang diakibatkan oleh dirinya sendiri dan kelalaian orangtua dalam mengawasinya.

Kerugian bisa menimpa dirinya sendiri dan orang lain. Bila Anda dan anak sedang menaiki tangga berjalan (eskalator) di sebuah pusat perbelanjaan, pastikan tali sepatu si kecil sudah terikat dengan benar dan ingatkan dia agar tidak meletakkan kakinya terlalu ke pinggir hingga menyentuh ‘dinding’ eskalator. Hal ini untuk menghindari kakinya masuk ke sela-sela antara anak tangga yang satu dengan lainnya dan terjepit antara dinding pembatas dan anak tangga.

Contoh lain adalah bila anak gemar memanjat sesuatu. Jangan lengah sedikitpun. Semahir apapun si kecil memanjat, dia tetaplah anak-anak. Ciri khas yang selalu melekat dalam diri anak tak lain adalah sifat ceroboh. Anda tentu tak ingin perhatian Anda yang teralihkan hanya sedetik membuat Anda tidak bisa mencegahnya jatuh dari pohon atau pagar yang tinggi dan menyebabkan si kecil akhirnya gegar otak atau patah tulang.

Bagaimana bila kecerobohan anak dalam bermain dan kelalaian pengawasan dari Anda menyebabkan kerugian pada orang lain? Sebagai orangtua yang bekerja, pernahkah Anda – sepulang dari kantor – mendapat laporan dari seorang tetangga, bahwa si kecil telah berkelahi dan membuat bibir anak tetangga tersebut berdarah? Mungkin dia tidak bermaksud nakal, melainkan membela diri. Namun tetap saja, semua kelakuan si kecil harus mendapat kontrol dari Anda sebagai orangtua. Sama halnya ketika dia mulai iseng menyentuh korek api. Peringatkan dia dengan nada tegas untuk tidak lagi menyentuh, memainkan, apalagi menghidupkan korek api tersebut. Kebakaran bisa terjadi dari segala kemungkinan.

Awasi anak saat bermain. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti yang dialami oleh Juliet Breitman (4) and Jacob Kohn (5). Dua tahun lalu, kedua anak ini sedang asyik melakukan balap sepeda, yang diawasi oleh masing-masing orangtua, yakni Dana Breitman and Rachel Kohn. Saat menggembirakan itu menjadi sebuah tragedi setelah mereka (Juliet dan Jacob) menabrak seorang nenek berusia 87 tahun. Claire Menagh, sang nenek terpaksa dioperasi karena mengalami patah tulang pinggul akibat ditabrak.

Tuntutan pun diajukan kepada kedua anak tersebut. Hakim bernama Paulus Wooten dari Mahkamah Agung Negara di Manhattan memperbolehkan diajukannya tuntutan kepada kedua anak tersebut, karena anak berumur empat tahun atau lebih sudah boleh dituntut, meski belum pantas menerima tanggung jawab atas sebuah kelalaian. Sang pengacara menegaskan, bahwa tanggung jawab harus diserahkan kepada orangtua mereka. Hal ini disanggah Hakim Wooten dengan pertimbangan, bahwa lepas dari pengawasan atau dengan pengawasan dari orangtua, anak berumur empat tahun dinilai sudah cukup ‘memadai’ untuk jernih berpikir, bahwa mereka harus menengok ke kanan dan kiri terlebih dahulu, sebelum menyeberang atau berlarian di jalan.

Merugikan diri sendiri atau orang lain sama fatalnya. Apakah Anda cukup kuat melihat si kecil berada di balik terali besi, seandainya Indonesia memiliki dasar hukum yang sama dengan New York dan dia seperti Juliet Breitman, serta akhirnya dipenjara hanya karena kurangnya kontrol dari Anda?

(berbagai sumber)

SHARE