Belajar dari Para Pahlawan Kecil Dunia

0
32

.Sehubungan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini, 10 November 2010, kali ini Ghiboo akan memberikan sedikit tip dan trik bagaimana mendidik dan melatih anak agar bisa berjiwa pahlawan. Anda tidak harus mempersiapkan dan mendaftarkannya mengikuti wajib militer sejak kecil. Menjadi pahlawan di masa kini tidak perlu dengan benar-benar ikut berperang dan menumpas para penjahat. Si kecil bisa menjadi pahlawan dengan menumbuh-kembangkan jiwa pemberani, pantang menyerah, rela berkorban, dan mendahulukan kepentingan orang lain.

Berjiwa pemberani bukan berarti menanamkan sifat kekerasan dalam diri si kecil. Berani malak teman sekolahnya? Berani mengancam teman untuk mengerjakan PR-nya? Berani dan kurang ajar terhadap orangtua? Bukan seperti itu. Berani di sini berarti nyali untuk membela dan mempertahankan kebenaran. Membantah orangtua, guru, atau orang yang lebih tua memang sepertinya negatif, namun bila dia ‘melawan’ orang-orang tersebut, karena berusaha menguak kebenaran, maka dia sudah pantas disebut sebagai pahlawan.

Lain lagi dengan Nathan Thomson, Lin Hao, Alexis Goggin, dan Ibrahim Quaida. Dilansir dari sebuah blogspot, keempat anak itu telah membuktikan kepada dunia seberapa beraninya mereka. Nathan Thomson (9) berani menghadapi dan bergulat dengan seseorang yang menembak ibunya sebanyak delapan kali. Demi melindungi ibunya, ia pun tertembak di wajah. Alexis Goggin mengalami hal serupa. Anak tersebut (7) menggunakan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi nyawa ibunya dari enam peluru yang dilayangkan pacar ibunya, yang sedang mengamuk. Alexis tidak takut tertembak. Dia lompat ke tengah-tengah ibu dan lelaki itu, memohon agar nyawa ibunya tidak dihabisi. Ibrahim Quaida (8) tidak kalah hebatnya. Dia menyelamatkan kakaknya, Sarah, yang berusia 10 tahun saat berada dalam bahaya ketika berenang di pantai Sandrigde, Melbourne. Ombak besar datang dan menyapu mereka ke arah laut lepas. Kakaknya yang tidak dapat bertahan terus berteriak meminta pertolongan. Ibrahim menarik kepala Sarah ke permukaan dan menjaga agar mereka tetap terapung dengan tetap berkata, “Aku menyayangimu kakak, kau akan baik-baik saja.” Bahkan saat tim penyelamat datang, Ibrahim meminta agar mereka menyelamatkan kakaknya terlebih dahulu. “Tolong selamatkan dia, ibuku membutuhkannya. Dia sangat berarti,” ucapnya. Nathan Thomson, Alexis Goggin beruntung masih dapat hidup hingga detik ini. Malang bagi Ibrahim. Setelah regu penyelamat menarik Sarah ke pantai dan mencari Ibrahim, nyawanya sudah tak tertolong.

Bagaimana dengan Lin Hao? Anak laki-laki yang duduk di tingkat dua Sekolah Dasar tersebut sangat berani kembali ke reruntuhan bangunan akibat gempa pada saat banyak orang lainnya kabur menyelamatkan diri keluar gedung. Lin Hao berhasil menyelamatkan kedua temannya yang tersangkut di antara puing. Mau tahu apa alasan polos dan jujur dari seorang anak kecil melakukan hal besar seperti itu? “Aku adalah ketua kelas dan sudah seharusnya aku bertanggung jawab atas teman-temanku.” Hebat! Bocah ingusan saja sudah mengerti arti tanggung jawab. Sudah saatya para pejabat Indonesia mendengar dan membaca kisah Lin Hao. Kala bangsa terpuruk dan kacau akibat bencana dan kerusuhan lainnya, tidak seharusnya mereka melarikan diri ke luar negeri dan melepaskan tanggung jawab. Let’s stay and be responsible like Lin Hao did!

Anda bisa menceritakan kisah keempat anak tersebut sebagai motivasi si kecil untuk berkembang dan bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bermoral baik, seperti para pahlawan cilik tersebut. Tidak hanya berani, mereka pun benar-benar pantang menyerah, rela berkorban, dan mendahulukan kepentingan orang lain. Charlie Simpson (7) misalnya. Rasa kemanusiaannya telah terketuk sejak dini. Tidak hanya bermodal dan berkoar-koar janji-janji seperti para pemimpin negara, Charlie langsung mengambil tindakan nyata untuk mengumpulkan sumbangan bagi para korban gempa Haiti dengan bersepeda keliling kota (15 mil di sekitar taman kota). Awalnya, ia hanya berharap dapat mengumpulkan 500 Euro, namun akibat usahanya yang telah menyentuh hati banyak orang, Charlie berhasil menggalang dana hingga 120.000 Euro.

Pahlawan tidak dilahirkan begitu saja. Dia dibentuk. So, parents, create a little hero in your family!

(Berbagai sumber)

SHARE