APPMI Fashion Show on Jakarta Fashion Week 2010/2011 Day 4

0
58

.Rabu, 10 November 2010 menjadi hari membanggakan bagi para perancang muda berbakat yang menyertakan diri dalam Jakarta Fashion Week. Mereka adalah Melia Wijaya. Ledie Suwandie, NInik Darmawan, Diwa Syifa, Ian Adrain, Afif Syakur, dan Defrico Audy yang mempertunjukkan mahakaryanya pada hari ke-4 pekan mode bergengsi itu. Berbeda dengan peragaan busana lain yang sama-sama digelar di fashion tent Pasific Place, para pengunjung dapat menyadari adanya benang merah diantara rancangan desainer APPMI kali ini, yaitu, penggunaan kain asli Indonesia.

Dimulai dari Melia Wijaya yang mengangkat tema Striking Structures and Deconstruction, sebuah judul yang begitu nyata diimplementasikan dalam garis-garis rancangan gaun dan celana selutut yang tegas namun tidak kaku. Layaknya desain arsitektur, rancangan Melia begitu kokoh dan independen, tetapi tetap lembut dengan warna-warna pastel seperti beige, biru dan silver. Pola geometris di didalamnya mengesankan sesuatu yang artsy dan edgy.

Ledie Suwandie menlanjutkan dengan Java Meets Sumatra yang klasik. Ledie pandai menggabungkan kain batik khas Jawa Barat dengan songket berkilauan dari Sumatra. Akulturisasi budaya ini dibentuk Ledie melalui maxi dress feminin, wrapped skirt, serta atasan bermodel kebaya dengan aksen bell puff, ruffles dan lipit. Semuanya terlihat sangat elegan tanpa berlebihan.

Neglect adalah tema yang diusung oleh Ninik Darmawan. Mendapat inspirasi dari peristiwa alam yang menimpa Indonesia, masker menjadi hal yang lumrah disaksikan di catwalk. Tentu saja bukan sekedar masker biasa, melainkan masker cantik penuh embellishment yang berwarna serasi dengan bajunya. Kunci rancangannya adalah kain-kain panjang yang disilangkan pada gaun. Statement necklace dari bebatuan melengkapi koleksi yang didominasi warna pink dan abu-abu ini.

Dilanjutkan dengan Dewi Syifa yang mengeluarkan rancangan bernama Swan Lake. Baby doll, A-line dress, tube dress, atasan berwarna ungu dan knee length pants tampil berbeda dengan bahan batik dan cutting 50’s. Anda seolah melihat membayangkan ballerina yang lincah namun membumi. Perpaduan yang sangat unik dan wearable.

Ian Adrian muncul dalam Rhapsody in Kutai yang megah. Baloon dress, mini body-con dress, pants dan vest yang kaya detail, begitu memanjakan mata anda. Detail yang wow dan etnik ini, anehnya malah membuat karya Ian semakin terlihat modern. Campuran kain emas dengan aksen lurik warna-warni menunjukkan ciri khas Kutai yang penuh warna. Jika ada penghargaannya, Ian berhak menyandang The Most Creative Designer of The Day.

Afif Syakur datang dengan koleksi yang ringan bernama Fascinate Square. Idenya berasal dari motif batik kraton yang berbentuk kotak-kotak diujung kainnya. Cutting yang sederhana tidak membuat gaun-gaunnya jadi less-attractive, karena terbuat dari bahan silk dan chiffon yang menjuntai indah. Yang paling tak sanggup ditolak adalah sepatu-sepatu yang seolah ‘berbicara’. Platform dan ankle boots yang dilukis dengan corak bunga dan dedaunan, benar-benar one of a kind. Oh, so tempting!

Last but not least, Defrico Adrian sungguh memukau sore itu. Mengangkat tema Tribal Trouble, Defri menyajikan perpaduan etnik dan modern yang terinspirasi dari gaya kerajaan Bali. From head to toe, it’s all about the details! Ruffles, kerah ekstra besar, pita, motif garis, dan corak kain Karang Asam Bali yang mirip motif tribal ala Afrika tampil glam dan opulent dengan campuran bahan sutra dan velvet. Just perfect!

(Ghiboo)

SHARE