Wake-ari, Antara Konsumsi dan Toleransi

0
53

.Warga kota Tokyo yang saat ini sedang sibuk-sibuknya mempromosikan kota mereka sebagai tuan rumah pesta Olimpiade 2016 kini memiliki istilah baru dalam keseharian mereka. Bukan, bukan istilah yang berkaitan dengan olahraga ataupun olimpiade. Ini tentang toleransi dalam berkonsumsi.

Wake-ari, atau yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih bermakna “ada sebabnya/ada alasannya”, adalah istilah yang sedang trendy dikalangan para pedagang dan pembeli. Dalam hal wake-ari, alasan dan penyebabnya hampir selalu bisa dipastikan bermakna buruk.

Orang-orang Jepang telah lama terkenal sangat pemilih bila berurusan dengan barang belanjaan. Mereka hanya mau menerima produk yang terbaik, barang dengan kemasan terbaik, dan tentunya yang berkualitas terbaik. Namun sifat picky itu sudah agak mengendur dan mereka mulai bisa menerima ketidaksempurnaan. Kini para konsumen di Tokyo dan berbagai daerah lain di Jepang terlihat mulai menikmati paket dan diskon yang diberikan oleh berbagai toko dan manajemen hotel karena produk mereka yang wake-ari, seperti sayur dan buah yang bentuknya tak seindah seperti seharusnya, perabot rumah tangga yang cacat namun tak terlihat dimana letak cacatnya, berbagai barang elektronik yang sudah kelewat musimnya, dan kamar hotel dengan pemandangan tiang listrik atau bahkan tanpa jendela. Bisa dibilang wake-ari ini adalah salah satu bentuk toleransi dalam berkonsumsi dan sekaligus cara tercanggih untuk menarik pembeli.

(Berbagai sumber).

SHARE