Keuntungan Meniru Superhero

0
59

.Anak seringkali terpikat oleh aksi kepahlawanan tokoh-tokoh fiksi yang kerap mereka lihat di televisi, majalah, ataupun media lainnya. Sebut saja Batman, Superman, Ben10, Ultraman, Kura-Kura Ninja, dan masih banyak lagi.

Anda mungkin heran atau bahkan tidak mengerti mengapa tokoh-tokoh tersebut diciptakan dengan banyak adegan berlari, melompat, dan berkelahi. Bukankah mengagumi mereka sama saja mengajarkan kekerasan pada si kecil?

Lihat dari sisi yang berbeda. Jeff Greenberg, Ph.D., seorang profesor psikologi sosial dari Universitas Arizona mengatakan, “Anak-anak cenderung tidak memiliki kekuatan dan rentan terhadap banyak hal. Berpura-pura menjadi superhero akan membuat mereka mendapatkan kepercayaan diri dan kompetensi melalui cara yang postif. Ini adalah keuntungan dari sisi psikologi.”

Tentu Anda setuju, bahwa setiap manusia ingin melakukan hal-hal berguna untuk kebaikan dunia. Anak enam tahun – misal – belum bisa memahami arti penting seorang dokter, atau mengagumi jasa kepahlawanan seorang ilmuwan dalam menciptakan hal besar dan baru untuk kemajuan ilmu pengetahuan bagi seluruh umat manusia.

Berbeda halnya, jika ia melihat seseorang berpakaian berbentuk jaring laba-laba, meloncat dan menempel dari satu gedung ke gedung lain sambil memukul dan membanting monster besar, yang sedang mengamuk dan akan menginjak jutaan penduduk di sebuah kota. Spiderman nama tokoh itu. Saat sang monster terkapar dan jatuh ke tanah akibat serangan fisik Spiderman, maka sang manusia laba-laba berhasil menjadi pahlawan dengan menyelamatkan jutaan nyawa manusia.

Biarkan si kecil menjadi ‘pahlawan’ dengan meniru dan mengagumi tokoh fiksinya. Semakin bertumbuh dan bertambah umurnya, anak akan berhenti meniru. Secara alami ia akan mendapatkan rasa kepercayaan dirinya dengan cara lain yang tentu saja lebih dewasa dan lebih bisa dipertanggung jawabkan.

Meski suatu hari si kecil akan merasa, bahwa meniru tingkah laku dan pakaian Batman ataupun teman-temannya adalah hal yang konyol, setidaknya untuk saat ini, ia mengerti bahwa hal baik selalu dapat mengalahkan kejahatan. Biarkan anak meresapi perasaan hebat dan nyaman setelah menolong dan membantu orang lain, seperti tokoh fiksi pujaannya.

(Berbagai sumber)

SHARE