Anakku Menggambar di Kanvasnya

0
27

.Oleh: Rully Mujahid – ATD Indonesia

Ayah-bunda, saat Anda membaca artikel pendek ini, coba bayangkan anak sedang bermain dengan lincahnya atau mungkin sedang menggambar atau beraktivitas lainya. Terlintas di pikiran Anda, bagaimana jika dia semakin besar nanti? Bagaimana mengenalkan kegiatan-kegiatan bermanfaat untuk dijadikan hobinya? Bagaimana perkembangan minat dan bakatnya? Bagaimana mengasah dan melesatkan anak Anda? Begitu banyak keinginan orang tua terhadap anaknya dengan tujuan yang baik agar anaknya dapat menjadi cerdas, lincah, dan kreatif.

Kadang banyak orang tua memaksakan keinginannya agar anak mempunyai hobi yang sama dengan mereka. Tidak hanya itu, anak juga ‘dipaksa’ mengembangkan minat dan bakat sesuai keinginan orang tua. Ibarat sebuah kanvas untuk melukis, setiap orang mempunyai kanvas kehidupannya sendiri. Anda sudah melukiskan kehidupan pada kanvas Anda tersebut dengan lukisan yang indah, sapuan kuas yang halus, keseimbangan bentuk, dan warna-warna yang cemerlang. Mungkin juga Anda pernah melukiskan sesuatu yang suram, sapuan kuas yang kasar, bentuk yang berantakan, dengan warna-warna yang suram dan gelap. Meski berpasangan, satu keluarga, atau bahkan darah daging sendiri, setiap orang memiliki lukisannya masing-masing dan berbeda satu dengan yang lain. Semua lukisan itu sesuai dengan yang pikiran dan perasaan si pelukis.

Anak pun mempunyai kanvasnya sendiri. Sebuah kanvas kehidupan sesuai dengan bakat dan minatnya. Ingatkah Anda beberapa kali pernah mencoba menggoreskan sesuatu di kanvas anak? Mungkin mewarnai kanvasnya dengan warna-warna yang Anda suka atau menggambarkan sesuatu yang indah – menurut Anda – pada kanvas tersebut? Alangkah baiknya jika Anda membiarkan anak melukis sendiri, mencurahkan apa yang dia inginkan. Lantas, apa peran orang tua di sini? Orang tua hanya mengenalkan alat-alat yang dapat digunakan dalam melukis di atas kanvas tersebut, seperti pensil, kuas, cat, dan palet. Kenalkan banyak warna yang bisa digunakan, seperti merah, biru, kuning, hijau, dan lainnya. Contohkan pula bagaimana menggunakan alat-alat dan warna tersebut dengan menggoreskannya di kanvas Anda dan dia akan melihat orangtua melakukannya, sehingga menimbulkan ketertarikan mencoba dalam dirinya. Itulah pentingnya sebuah keteladanan.

Biarkan anak mencoba menorehkan apa yang dia pikirkan, inginkan, dan rasakan di atas kanvas dengan aliran naturalis atau abstrak sekalipun. Biarkan dia mencoba, memilih, dan menyukai minat dan bakatnya. Semakin anak mencoba menggores, semakin dia menikmati kehidupannya. Saat-saat mencoba hal baru, saat-saat menentukan minat dan bakat, serta saat mengeluarkan isi hati dan pikirannya. Ia akan semakin asyik bereksperimen dalam goresan-goresan kuas serta mencampur warna. Tentu saja, dia akan membutuhkan Anda untuk bertanya hal-hal baru yang belum diketahuinya, sekedar mencari perhatian, atau menginginkan pujian dari hasil karyanya.

Pada saatnya nanti, Anda akan melihat sebuah lukisan kehidupannya yang indah dengan goresan yang pasti – apapun aliran lukisannya – dan menggunakan warna-warna yang indah. Lukisan tersebut akan menggambarkan nuansa dari ekspresi kepribadiannya. Berbanggalah, karena Anda telah memberikan contoh, dukungan, waktu, kesempatan, dan pembelajaran untuknya.

(ATD Indonesia)

SHARE