Hindari Dewasa Sebelum Waktunya

0
29

.Kekhawatiran yang sering dirasakan oleh orangtua adalah anak yang dewasa sebelum waktunya. Terlebih di masa sekarang, saat seluruh informasi bisa masuk dan langsung diterima oleh anak tanpa adanya saringan.

Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah berhenti ‘membombardirnya’ dengan berbagai macam gadget, seperti handphone, laptop, komputer, dan masih banyak lagi. Sebelum memberikannya pada anak, pertimbangkan masak-masak, sepenting apakah benda tersebut untuknya?

Bila mereka mulai meminta sesuatu sebagai lambang ‘kedewasaan’ mereka, seperti izin berinternet, berkumpul bersama teman di mall, dan kegiatan lainnya, jangan langsung menyetujui hal tersebut. Berikan syarat-syarat yang harus mereka penuhi terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka boleh mendapatkan apa yang mereka mau. Syarat-syarat ini sebagai pertanda dan untuk mengajarkan, bahwa mereka harus bisa bertanggung jawab atas apapun yang hendak mereka kerjakan, sebab itulah yang harus dilakukan orang dewasa, bertanggung jawab. Contoh, minta anak untuk membereskan kamarnya atau mengerjakan PR-nya sebelum asyik chatting dengan teman-temannya di dunia maya.

Perhatikan pula cara berpakaian sang buah hati. Jangan mendukungnya mengenakan pakaian, make-up, atau aksesoris yang hanya layak dipakai oleh orang-orang yang jauh di atas umurnya. Lipstik, piercing berlebihan, tato, hot-pants, rambut gondrong (untuk anak lelaki), kaos ketat dan terlalu tipis, contohnya. Kebebasan berekspresi, sih, boleh-boleh saja. Tapi tentu Anda tidak mau, kan, bila anak merasa sudah cukup dewasa untuk berbuat apa saja karena bebas berpenampilan seperti orang dewasa pada umumnya?

Berpacaran juga sering menjadi masalah. Anak remaja – khususnya – akan membenci orangtuanya, jika dilarang berpacaran. Dia akan merasa dipisahkan dari lawan jenis yang pertama kali disukainya. Jangan mendukungnya, namun jangan pula melarangnya. Bila anak mengundang kekasihnya berkunjung ke rumah, panggil anak tersebut dengan sebutan ‘teman’. Tunjukkan sikap menghargai padanya di depan anak, seperti “Kakak, ajak teman kamu makan, donk!” Hal ini akan membuat senang sang buah hati, karena ‘teman spesialnya’ diterima dengan baik di rumah, namun ia juga akan sadar, bahwa penerimaan tersebut hanya sebagai ‘teman’ bukan ‘pacar’. Beri anak tantangan dengan mempertahankan prestasi di sekolah, bila ingin terus berteman baik dengan anak tersebut.

Jadilah orangtua yang berjiwa muda, namun tetap tegas melarang hadirnya kedewasaan sebelum waktunya pada kehidupan anak.

(Berbagai sumber)

SHARE