Sahabat Atau Istri?

0
25

.Banyak hal mengungkapkan bagaimana seorang lelaki selamanya akan menjadi bocah, kekanakan, dan tidak akan bertumbuh dewasa. Hal ini menjadi salah satu penyebab munculnya sifat pemujaan berlebihan dan tidak rasional terhadap temannya. Para pria cenderung memprioritaskan solidaritas dan toleransi tak berbatas antar teman laki-lakinya.

Hal ini akan menjadi masalah bila tidak diperhatikan oleh pasangannya. Memilih dan membela teman dibanding pasangan. Itulah yang akan terjadi. Pernahkah Anda merasa kesal terhadap sahabat suami yang datang ke rumah mengendarai motor besar kebanggaannya? Bukan motor yang Anda benci, namun bagaimana sang teman menarik gas dalam-dalam, berulang-kali hingga menimbulkan kebisingan di dalam rumah, yang menyebabkan si kecil terbangun dan menangis.

Sayang, bukannya meminta orang itu menghentikan tindakannya atau setidaknya meminta maaf – atas nama sahabatnya – kepada Anda, suami justru balik marah ketika Anda marah atas kelakuan temannya yang tidak sopan tersebut. Alasannya sederhana, dia sudah lama berteman baik dengannya dan sejak dulu mereka berdua saling berkunjung ke rumah masing-masing dan gemar memperdengarkan bunyi knalpot serta mesin kendaraan.

Contoh lain, apakah suami Anda bersahabat dengan seorang pecandu narkoba ataupun minuman beralkohol? Saat orang itu menawarkan benda-benda tersebut kepada suami, Anda spontan memarahinya. Apa yang terjadi selanjutnya? Suami justru membenci Anda, karena merasa Anda tidak bisa memahami dan tidak mau mengerti, bahwa sahabatnya hanya ingin ‘berbagi kebahagiaan’.

Dr.Ellen, seorang pakar, penulis, dan pembicara seputar permasalahan hubungan laki-laki dan perempuan, mengatakan kepada seorang perempuan bernama Diana untuk bersikap tegas dan meminta teman suaminya meminta maaf langsung kepadanya. Diana menceritakan, bahwa ia dicekik dan dimaki-maki oleh sahabat suaminya sendiri, hanya karena berniat baik memanggilkan taksi untuk laki-laki tersebut. Beberapa jam sebelumnya, pria itu datang ke rumah Diana dan menenggak alkohol hingga mabuk. Tidak heran, karena lelaki itu memang seorang alkoholik. Mengecewakan, sang suami justru marah pada Diana dengan mengatakan seharusnya ia tidak perlu ‘memaksa’ menelepon taksi, bila orang tersebut telah berkata, bahwa dia baik-baik saja.

Bila dibiarkan, sikap pasangan yang terlalu membela teman seperti ini akan merusak hubungan Anda berdua sedikit demi sedikit. Anda akan merasa terancam dan tidak lagi merasa dicintai. Saatnya bersikap tegas. Layaknya dianjurkan oleh Dr.Ellen, bila perlu, minta pasangan untuk memilih antara Anda dan sahabatnya. Manusia memang butuh teman, namun bukan berarti boleh berhenti menjaga keutuhan keluarga hanya demi sahabat, bukan? Toh, seseorang yang dewasa akan berusaha menghentikan kebiasaan buruk sahabatnya – meski hal itu menyakiti perasaannya – bukannya justru semakin ‘menjerumuskan’ dengan mendiamkan, karena merasa tidak enak.

Bila pasangan memprioritaskan teman, mungkin dia sebenarnya belum siap berkomitmen.

(Berbagai sumber)

SHARE