Matematika Susah, Telepon Polisi!

0
24

.Pernahkah Anda berkata sesuatu pada buah hati, namun anak salah pengertian mengenai hal itu? Wajar. Seorang anak kecil cenderung menerima sesuatu hal secara mentah-mentah. 

 
Melarang anak untuk berada di luar rumah saat hujan untuk menghindari sakit memang baik. Tapi bisa jadi si kecil hanya bisa memahami, bahwa semua air yang berada di luar rumah tidak baik untuk kesehatan, sehingga ketika berwisata bersama keluarga ke pantai, dia tidak mau tersentuh oleh air laut sedikitpun.

 
Jangan salahkan buah hati, bila dia sering berbuat konyol ‘atas dasar’ wejangan Anda. Bagaimana mungkin Anda mengharapkan seorang anak kecil mampu berpikir jauh, memilah-milah, dan mengerti maksud serta tujuan sebuah informasi baru? 

 
Melihat orangtua sedang melakukan hubungan badan berdampak negatif pada psikologi anak. Si kecil hanya mengerti, bahwa orang yang ‘merintih’ berarti sedang merasa kesakitan dan teraniaya. Melihat ibunya merintih berada di bawah sang ayah, ia akan menangkap informasi, bahwa ayah sedang menganiaya ibu. Hal ini bisa menimbulkan kebencian pada ayahnya.

 
Lantas bagaimana caranya agar anak dapat mengolah informasi yang datang melalui seluruh panca inderanya? Tidak bisa. Si kecil tidak akan sanggup menyaringnya. Anda – sebagai orangtua – yang harus menjadi ‘penyaring’ dan menjernihkan hingga ia mampu memfungsikan otaknya dengan lebih sempurna.

 
Johny, seorang anak berumur empat tahun di negara belahan barat sana menelepon polisi untuk membantunya memecahkan soal matematika, yakni pengurangan. Kala sang ibu memergokinya berbicara di telepon, ia terkejut dan meminta anaknya segera menutup telepon. Dengan nada polos, Johny membela diri dengan berkata, “Bukankah Ibu yang menyuruhku menelepon seseorang, bila aku sedang membutuhkan bantuan? Bukankah polisi selalu siap sedia membantu?”

 
Johny tidak salah. Ibunya pun tidak salah. Semua hanya salah paham. Kalau saja sang ibu mau lebih bersabar menerangkan sesuatu kepada Johny, tentu kekonyolan tersebut tidak akan terjadi. Usahakan menjelaskan segala sesuatu secara detil, agar si kecil tidak salah tangkap arti sebenarnya. Jangan malas menjawab seluruh pertanyaan yang dia ajukan.

 
Awasi si kecil. Tanyakan apa yang tak dia mengerti. Jangan sampai tingkah spontan akibat kepolosannya tidak lagi lucu, melainkan berkembang menjadi berbahaya. 

 
(Berbagai sumber)

SHARE