Tata Tertib Perang Mulut

0
27

.Berbeda pendapat dengan pasangan itu wajar. Perbedaan pendapat sering berubah menjadi perselisihan berskala besar. Hal ini disebabkan cara Anda berdua yang salah dalam mengemukakan pendapat. Bukannya mendengarkan, pasangan justru melawan balik.

Paula Hall, PST, seorang psikoterapis hubungan menyatakan, bahwa ada cara-cara sederhana yang harus diingat dan dipraktekkan agar argumentasi menjadi lebih produktif. Bukan sekedar adu urat atau bahkan otot.

Stick to the issue. Jangan melebarkan dan membesar-besarkan masalah. Bila Anda berselisih karena pasangan tidak bisa menjemput atau mengantar Anda, jangan memasukkan pembahasan tentang mantan kekasih atau bagaimana Anda mengurus anak seorang diri. Bahaslah hanya mengenai permasalahan pokok yang sebenarnya. Bila Anda mengungkit atau mengemukakan hal lain hanya karena kesal – yang sebenarnya tidak ada relevansinya – bisa dipastikan Anda memperburuk situasi, bukannya memecahkan persoalan.

Pada saat mulai kesal, pikirkan dulu apa sebenarnya yang membuat emosi Anda bergejolak. Pasangan lupa membayar tagihan listrik pada hari Senin, misal. Permasalahan pokoknya adalah ‘lupa membayar tagihan listrik’, bukan pada hari apa. Tekankan dan bahas seputar masalah tersebut dengan mendalam tanpa meluas ke hal-hal lain.

Hati-hati dalam berbicara. Perhatikan penggunaan kata. Jangan pernah mengucapkan kata ‘selalu’, ‘harus, ‘tidak pernah’, ‘seharusnya’, ataupun ‘tidak seharusnya’. “Aku sudah capek! Kamu tidak pernah mengurus anak dan selalu sibuk dengan kesenanganmu sendiri!” Tunggu dulu. Apa benar pasangan ‘tidak pernah’ sekalipun ‘mengurus’ anaknya? Benarkah dia tujuh hari dalam seminggu berkutat pada kesenangan-kesenangannya semata? Hati-hati. Buatlah pernyataan yang obyektif. Mungkin pasangan memang ‘sering’ lalai, namun salah besar bila Anda menyebutnya dengan kata ‘selalu’.

Tenang. Kontrol emosi Anda. Berteriak kepada seseorang hanya akan membuat Anda mendapatkan respons negatif. Bisa dipastikan pasangan tidak akan mendengarkan satu kata pun yang keluar dari mulut Anda, bila Anda menyampaikannya dengan nada tinggi, bahkan ‘dihiasi’ kata-kata kasar. Membuat pasangan naik darah akan menutupi akal jernihnya untuk mampu menangkap esensi dari perkataan Anda. Ajak dia untuk duduk berdua saling berhadapan. Kontak mata penting untuk melakukan pembicaraan dari hati ke hati, bukan sekedar masuk telinga kanan dan keluar ke telinga kiri. Penting pula untuk tidak memotong pembicaraannya untuk menghindari salah paham lebih lanjut. Saling mendengarkan dan mencerna dengan jernih, baru menimpali.

Untuk menyatakan perasaan, usahakan untuk mengungkapkannya sebagai opini dan keluh kesah kepadanya. Hindari kesan menuduh. Contoh, katakan padanya, “Aku merasa kamu sudah tidak mencintaiku lagi.” Jangan mengucapkan kalimat sebagai berikut, “Kamu tidak lagi bersikap seperti orang yang mencintai pasangannya.” Kalimat kedua terlihat langsung menimpakan vonis ‘salah’ kepadanya. Sedang kalimat pertama murni terasa sebagai opini dan tidak bersifat ‘menyerang’, namun tetap akan membuatnya sadar bahwa Anda membutuhkan perhatian darinya lebih banyak lagi.

Berselisih paham itu sehat kok untuk suatu hubungan. Cara penyampaiannyalah yang perlu diperhatikan.

(Berbagai sumber)

SHARE