Bintang Michelin, Bintang Restoran

0
355

.Kalau Anda adalah penggemar berat film Ratatouille, Anda pasti ingat wajah sedih mendiang chef Auguste Gusteau yang merana di alam baka ketika menyadari pamor restonya menurun, seiring dengan berkurangnya jumlah bintang Michelin yang menghias atap restonya.

Dalam dunia masak-memasak dan haute cuisine, bintang Michelin bukan hanya sekedar sebuah pujian, namun juga sebuah bentuk pengakuan atas kesempurnaan, keagungan, dan tentu saja kelezatan. bintang Michelin itu bagai sebuah Pulitzer bagi penulis, dan sebuah medali emas Olimpiade bagi para olahragawan. Susah didapatkan dan tentu sangat butuh perjuangan hingga tak jarang beredar kabar tentang kelakuan aneh para chef yang gagal mendapatkannya, seperti Bernard Loiseau, yang bunuh diri gara-gara mendengar rumor bahwa bintang Michelin-nya akan dicabut satu.

Kisah bintang Michelin dimulai ketika pada tahun 1900, Andre Michelin, sang pemilik industri ban yang berbasis di Clermont-Ferrand, Perancis, menerbitkan buku panduan yang berisi cara pemeliharaan mobil, cara menemukan penginapan yang pantas, dan rumah makan yang menyajikan makanan enak setelah lelah berkendara. Buku tersebut juga tidak lupa mencantumkan alamat pompa bensin, bengkel, toko ban, dan toilet umum. Sejak tahun 1926, buku panduan Michelin mulai mencantumkan gambar bintang untuk rumah makan yang menyediakan makanan enak. Sistem bintang dua dan bintang tiga ditambahkan di awal tahun 1930. Sejalan dengan makin populernya kegiatan otomotif dan buku panduan edisi Perancis yang terjual hingga 30 juta eksemplar, maka Michelin pun mengembangkan penjelajahan dan bahasanya hingga di luar Perancis. Hingga saat ini Michelin telah menerbitkan buku panduan edisi Perancis, Austria, Belanda, Belgia, Luxemburg, Italia, Jerman, Spanyol, Portugal, Swiss, Britania Raya, Irlandia, New York City, San Francisco, Tokyo, Los Angeles, Las Vegas, dan Nevada yang mendaftar lebih dari 45 ribu hotel dan rumah makan terbaik yang bisa Anda temukan di area tersebut.

Tentang perbintangannya sendiri, satu bintang Michelin berarti lumayan, dua bintang Michelin artinya layak untuk didatangi kembali, sedangkan tiga bintang Michelin berarti Anda harus secara khusus meluangkan waktu karena restoran ini sangat layak untuk Anda kunjungi. Bintang-bintang ini diberikan atas dasar kelezatan masakah, dan seringkali tak ada hubungannya dengan dekorasi maupun pelayanan yang diberikan.

Kejutan justru datang dari Jepang, dan bukan dari Perancis atau negara lainnya di Eropa yang terkenal dengan tradisi masak memasaknya. Saat ini delapan buah restoran top di kota Tokyo telah mendapatkan 3 buah bintang Michelin, dan secara total kota ini memiliki 150 restoran berbintang Michelin minimal 1 buah. Dengan demikian secara resmi kota Tokyo telah berhasil melampaui Paris, London dan New York dan ini berarti kota Tokyo adalah kawasan kota terlezat dan paling menggiurkan di dunia.

Salah satu restoran pemilik tiga bintang Michelin adalah Esaki, restoran yang menyediakan menu makan siang bergaya nouveau Japanese dengan harga per menu mulai dari 3,675 Yen Jepang, atau sekitar Rp 400 ribu. Bersyukurlah karena ini adalah harga terbaik sekaligus yang paling masuk akal yang bisa Anda temukan ketika berurusan dengan restoran pemilik tiga buah bintang Michelin.

Esaki
B1 Hills Aoyama Bldg, 3-39-9 Jingumae, Shibuya, Tokyo
phone: (03)3408 5056
Open: Thu-Sat 12noon?13:30pm LO, Mon-Sat 6pm-11pm LO 9:30pm,
closed Sun and national holidays
www.aoyamaesaki.net

(Berbagai sumber).

SHARE