Getting Through Daddy Blues Syndrom

0
70

.Siapa bilang baby blues syndrom hanya dialami oleh perempuan? Salah. Sebagai laki-laki, Anda pun dapat mengalaminya. Setelah munculnya anak pertama atau kelahiran seorang bayi baru di tengah-tengah Anda dan pasangan, seorang pria dapat mengalami sindrom ‘daddy blues’. Apa itu ‘daddy blues’? Daddy blues tidak lain merupakan depresi dan stres yang dialami seorang ayah baru. “Gejala-gejala depresi dapat dilihat dari gangguan tidur, meningkat dan menurunnya nafsu makan, merasa kelelahan, merasa sakit hati, dan kecenderungan menarik diri,” ujar Dr.Jonathan Pochly, staff psikolog di Children’s Memorial Hospital, Chicago.

Pada perempuan, hormon menjadi penyebab kemunculan stres pada dirinya. Sedang pada seorang ayah, depresi dirasakan karena perubahan dramatis yang terjadi setelah kehadiran bayi, yakni seputar kegiatan rumah tangga sehari-hari, berkurangnya waktu tidur, dan peran baru yang akan selalu banyak mendapat tuntutan. Anda merasa tidak siap menghadapi semua itu. Selain stres, Anda yang mengalami ‘daddy blues’ juga akan merasa disisihkan. Anda tidak akan merasa menjadi bagian dari kedekatan dan ikatan yang kuat antara istri dan anak. Rasa iri, cemburu mulai muncul, karena harus ‘berbagi’ istri dengan sang bayi. Bukannya membenci darah daging, hanya saja Anda terlalu lama ‘memiliki’ istri seorang diri, namun kini Anda harus ‘membaginya’ dengan si kecil. Rela? Bagaimana pula Anda bisa menyaingi keahlian istri dalam menangani buah hati? Rumah serasa menjadi ‘neraka’ dan Anda mulai menjadi tidak nyaman berada di tengah-tengah keluarga, karena segala ‘kekacauan’ dan ‘ketidakberdayaan’ Anda menghadapi seorang bayi.

Bila Anda tidak mau tersisihkan, mulailah terlibat secara aktif dalam segala kegiatan yang berhubungan dengan anak. Anggap diri Anda sebagai orangtua tunggal, bukan hanya sebagai ‘pemain cadangan’ yang dibutuhkan kala istri sedang tidak bisa mengurus anak. Mandikan si kecil, gantilah popoknya. Temani dia bermain. Tenangkan dia agar berhenti menangis. Semakin rutin dan sering Anda mengurusnya, si kecil akan semakin ‘terikat’ dengan Anda dan menganggap ayahnya hebat.

Meski memiliki bayi sangat menyusahkan, usahakan untuk selalu mendapat istirahat cukup dan teratur. Saat Anda membutuhkan waktu istirahat, pekerjakan babysitter sementara untuk mengurusnya. Saat Anda sudah cukup segar, kembalilah merawat si buah hati. Bila Anda merasa tidak cukup pintar dalam hal bayi, mulailah perkaya ilmu dengan membeli banyak buku tentang tumbuh-kembang anak. Ikutlah perkumpulan-perkumpulan orangtua-anak, cari wawasan baru di internet, dan masih banyak cara lain. Dijamin, Anda akan semakin ahli mengurus si kecil.

Untuk mengatasi rasa cemburu, luangkan akhir pekan berdua saja dengan istri. Kali ini, titipkan sebentar buah hati ke pelukan kakek-neneknya. Gunakan akhir pekan tersebut untuk kembali ‘memiliki’ istri secara utuh. Meski yang Anda berdua bicarakan adalah seputar anak, setidaknya Anda tidak ‘diganggu’ oleh tangisan dan teriakannya yang selalu minta perhatian. Pembicaraan mendalam dengan pasangan mengenai si kecil akan berdampak positif terhadap rencana masa depannya kelak.

Bila Anda masih merasa stres, kelelahan, tersisihkan, dan cemburu – meski telah mencoba mengatasi dengan berbagai hal – bicarakan perasaan Anda tersebut dengan orang lain. Anda bisa mencari seorang pakar atau cukup dengan mendiskusikannya dengan istri atau bahkan orangtua. Nasihat dari orang yang lebih tua dan berpengalaman sepertinya cukup menjanjikan, right, Daddies?

(Berbagai sumber)

SHARE