Take That Berkata "Look Back, Don't Stare!!"

0
15

.Ketika usia tak lagi muda, seringkali kesadaran datang dengan sendirinya. Setelah itu, semua perasaan benci, sakit hati, kecewa, dan mungkin perasaan dikhianati tiba-tiba menjadi sesuatu yang tak lagi berarti. Yeah, secara teori memang terdengar mudah, namun tidak pada kenyataannya. Anda bisa melihatnya dalam Take That: Look Back, Don’t Stare, sebuah film dokumenter yang merekam kembalinya Robbie Williams ke Take That dan 12 bulan proses produksi album terbaru mereka. Dalam format warna hitam-putih, film dokumenter buatan  sutradara Fred Scott dan Nick Davies dari Pulse ini menyajikan sebuah kenyataan pahit tentang salah satu grup musik paling laris dan paling besar dari dekade 90’an.

Film ini dibuka dengan pemandangan lima anggota Take That diumurnya yang tak lagi muda, berkumpul di sebuah studio rekaman di kota New York dan terlibat dalam sebuah percakapan yang canggung diantara asap rokok dan gelas-gelas kopi. Sepertinya ini adalah interaksi antara Robbie Williams, Gary Barlow, Howard Donald, Jason Orange dan Mark Owen yang pertama setelah 15 tahun perpisahan yang menyakitkan. Yah, tak terasa ternyata telah 15 tahun berlalu.

Kisah tentang Take That sendiri dimulai ketika Nigel Martin-Smith, pemilik sebuah agensi kasting dan model di Manchester, merasa terpanggil untuk membuat sebuah formula tandingan demi meredam popularitas New Kids on the Block di Inggris. Maka diapun merekrut lima orang remaja kelas pekerja, yaitu Gary Barlow, Mark Owen, Howard Donald, Jason Orange, serta Robbie Williams, dan membagikan tiket emas untuk menaklukkan musik dunia. Berawal dari sebuah klab disko di London hingga akhirnya menyebabkan teriakan dan histeria remaja di seluruh daratan Inggris, Eropa, bahkan Asia serta Amerika, selama periode tahun 1990 hingga 1995, Take That telah menjadi raksasa musik dunia yang menghabiskan masa remaja mereka dengan kegiatan rekaman, tur, promo, dan bersenang-senang tanpa henti. Namun selama periode itu pula kehidupan lima remaja ini diisi dengan berbagai persaingan, ego, dan dominasi, hingga puncaknya ketika di bulan Juli 1995 Take That tak lagi ditemani Robbie.

Robbie Williams adalah anggota termuda sekaligus yang kelihatan paling tidak berbakat, paling insecure, dan sepertinya yang paling bermasalah. Kepergiannya dari Take That mungkin adalah sebuah bagian dari takdir, dan sisanya adalah sesutu yang justru diharapkan oleh sisa anggota Take That. Setelah itu kehidupan mereka berlima diwarnai dengan aksi membatasi diri dan komunikasi, kesuksesan Robbie Williams yang luar biasa, serta rivalitas antara dirinya dan Gary Barlow.

Kebangkitan kembali Take That di tahun 2006 menyisakan sedikit kegamangan bagi Robbie Williams. Di satu sisi dia ingin juga kembali mencicipi kebersamaan dengan Take That, namun di sisi lain dia juga memiliki karier cemerlang yang harus dipertahankan. Belum lagi ego dan berbagai masalah di masa lalu yang sepertinya belum benar-benar terselesaikan. Akhirnya Robbie Williams hanya bisa melihat pesona dan hingar-bingar Take That dari kejauhan. Musim panas 2009 adalah awal yang manis bagi kisah Robbie Williams dan Take That karena pada saat itulah Robbie dan Gary bertemu, berkompromi, dan membahas kemungkinan pengerjaan album baru Take That dalam formasi lengkap, sama seperti ketika mereka pertama kali terbentuk 20 tahun yang lalu.

Dan akhirnya memang demikianlah kejadiannya. Melalui serangkaian kejadian, lokasi yang berpindah-pindah, mood yang naik turun, serangkaian kecemasan dan ketidak percayaan, film Take That: Look Back, Don’t Stare menjadi saksi pertemuan kembali 5 orang yang kini sudah tak lagi muda, tak lagi belia, namun masih sanggup menggetarkan tangga lagu dunia. Sakit hati telah diobati, keretakan sudah dieratkan, and finally the long lost friend is back for good. Cheers, mate

Rencananya Universal Music Indonesia akan merilis DVD Film Take That: Look Back, Don’t Stare – A Film About Progress pada hari Senin, 20 Desember 2010.

(Universal Music Indonesia).

SHARE