Makan Kembali Bangku Sekolah!

0
46

.Belajar di sekolah selama minimal tujuh jam sehari sudah terasa sangat melelahkan dan membosankan bagi anak. Terlebih, bila guru-gurunya di sekolah gemar memberi bonus berlembar-lembar Pekerjaan Rumah untuk dikerjakan di luar jam sekolah.

Hati yang sebal dan fisik yang letih tidak akan menjadi motivasi positif untuk membuat si kecil berniat mengerjakan PR-nya. Campur tangan Anda dibutuhkan di sini. Meski memiliki seorang guru les pribadi yang sering datang ke rumah, orangtua tetap harus memikul tanggung jawab atas keberhasilan akademis sang anak. Setiap hari, tetapkan jadwal dan jam belajar anak, misal jam 18:00-20:00, diselingi istirahat selama 30 menit untuk makan pada pukul 19:00.

Seringkah Anda mendengar si kecil justru balik bertanya dengan kesal, ketika disuruh belajar atau mengerjakan PR, dengan mengatakan, “Kenapa sih selalu nyuruh aku belajar! Kenapa mama juga nggak ikut belajar? Tiap hari nonton TV mulu!” itulah anak. Si kecil akan merasa iri melihat orang lain bersenang-senang ketika dia harus tenang serius dan berkonsentrasi menghadapi soal-soal dari gurunya. Dia akan mulai tersiksa dan mulai merasa stres karena selalu ‘terikat’ oleh keharusan untuk belajar tiap saat, di sekolah dan rumah. Sebagai orangtua mungkin Anda akan tertawa mendengar hal ini, tapi bagi seorang anak, ini merupakan ketidakadilan yang besar untuknya. Cobalah untuk ikut memahami dan bertoleransi dengan cara pikir dan perasaannya. Matikan televisi dan korbankan program televisi favorit Anda selama dua jam pada jam belajarnya.

Tanpa suara dan gambar dari televisi yang mengganggu dan dapat mengalihkan perhatiannya, anak akan mudah berkonsentrasi dan mulai merasakan suasana belajar yang sesungguhnya. Apakah Anda harus mematikan radio juga? Tergantung. Beberapa anak memiliki cara yang berbeda dalam belajar. Bisa jadi si kecil hanya mampu fokus bila ditemani lagu-lagu. Alasannya sederhana, suasana yang terlalu sepi justru akan membuat dia mengantuk, sedang musik dapat terus membuatnya terjaga dan semangat dalam beraktivitas, yang dalam hal ini adalah belajar.

Pilihlah suatu tempat yang tidak banyak dilalui ataupun ditempati banyak anggota keluarga untuk berkumpul dan bersenda gurau. Jauhkan anak yang sedang mencoba belajar dari kegaduhan semacam itu. Bila perlu, sediakan kamar atau ruangan khusus belajar untuknya. Belajar di kamar tidur dikhawatirkan akan memberi ‘atmosfir mimpi’ untuknya. Temani dan awasi dia. Jangan mengelak saat si kecil menanyakan jawaban atau cara menjawab soal-soal yang dianggapnya sulit. Maaf, tapi demi anak, Anda pun harus ikut mengulang dan menyegarkan kembali ingatan Anda tentang mata pelajaran sekolah dasar dan menengah lagi. Bermainlah tanya-jawab dengan si kecil, setelah ia selesai menghafalkan dan memahami sebuah bab. Cara lain, Anda bisa menyuruhnya merangkum suatu bab. Dengan merangkum, secara tidak sadar ia akan membaca kembali seluruh pelajaran tersebut. Untuk dapat membuat sinopsis atau rangkuman, si kecil tidak hanya harus membaca, namun juga memahami. Efektif, bukan?

Untuk mendapatkan nilai akademis yang bagus, tidak hanya si kecil yang harus banyak berkorban. Anda pun harus ikut merelakan kesenangan dan ikut berjuang bersamanya, berusaha mengikuti pelajaran yang diterima anak di sekolah.

(Berbagai sumber)

SHARE