Alasan Remaja Membenci Orangtua

0
53

.Semasa bayi, anak selalu mencari Anda. Ia akan menangis saat terbangun dari tidurnya hanya karena tidak mendapati sosok Anda di sebelahnya. Kini, masa-masa indah Anda sebagai ‘idola’ itu telah berakhir.

Pada usia remaja, orangtua justru akan menjadi ‘musuh’ terbesar mereka. Mengapa seperti itu? Kesalahan apa yang telah Anda perbuat hingga anak begitu membenci Anda? Tidak ada yang salah. Anak remaja Anda hanya sedang memasuki suatu fase baru kedewasaan. Pada umur belasan tahun, anak akan mulai bertumbuh besar dan mulai sadar, bahwa ia memiliki hak-hak yang sama dengan orang-orang dewasa di sekitarnya, seperti orangtua, guru, dan masih banyak lagi.

Tubuhnya tumbuh tinggi, besar, dan menyempurnakan diri secara biologis. Secara fisik, ia sudah seperti orang dewasa pada umumnya. Namun anak belum sadar, bahwa mental dan emosinya belum ‘sesempurna’ perkembangan fisiknya. Hal di atas ‘dilengkapi’ dengan aturan pemerintah yang menyatakan bahwa seseorang yang telah berumur 17 tahun, berhak menikah dan wajib memiliki kartu identitas diri (KTP).

Ini berarti di mata pemerintah, anak Anda yang berusia 17 tahun telah dipandang sebagai seorang ‘individu’ yang sanggup diberikan hak-hak dan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Menanggapi hal ini, anak kemudian merasa ‘sejajar’ dengan Anda dan tidak mau diatur-atur lagi, karena merasa sudah cukup dewasa. Ia mulai mempertanyakan hak-haknya. Sayang, ia melupakan, bahwa sebelum mendapatkan hak, ia harus memenuhi segala kewajibannya terlebih dahulu.

Sebuah contoh, anak akan mulai memberontak di saat ia dilarang main dan pulang malam-malam atau bahkan baru sampai rumah pada subuh dini hari, karena ia melihat Anda pun kadang baru pulang malam setelah berkunjung ke rumah teman atau kerabat. Mengapa ia harus dilarang, bila Anda bisa sesuka hati melakukan hal yang sama? Begitulah pikirnya. Ia tidak mampu melihat, bahwa Anda pulang malam atau pada dini hari, karena harus menunggu kerabat yang dirawat inap di rumah sakit atau baru saja pulang setelah melayat seorang teman yang meninggal pada tengah malam. Meski salah dan dangkal, pemikiran kritisnya mulai terasah sedikit demi sedikit.

Tidak hanya itu, perkembangan kedewasaan berjalan beriringan dengan proses pencarian jati diri. Ia mulai memuja teman-temannya atau beberapa public figure yang dirasanya cukup hebat. Anak mulai meniru sang tokoh dan mencoba merubah diri menjadi ‘duplikat’ tokoh tersebut. Cara berpakaian, cara makan, pergaulan, dan cara hidupnya. Masalahnya, apa dan siapa yang ditirunya belum tentu baik. Bila sang tokoh merokok, ia pun akan ikut merokok. Dugem (dunia gemerlap) dengan segala paket narkoba dan minuman beralkohol pun tak luput ‘menemani’ proses tumbuh kembangnya menjadi orang yang ‘hebat’. Belum lagi masalah ‘pertemanan’ dengan lawan jenis. Semakin dilarang, ia akan semakin membenci Anda.

Anak remaja menganggap Anda mengekang dan menghalangi langkahnya membentuk dunianya sendiri sebagai individu yang ‘dewasa’. Ia gemas melihat Anda tidak percaya, bahwa ia sudah cukup dapat ‘dilepas’ dan masih memperlakukannya sebagai anak kecil. Sedang Anda sebagai orangtua dapat melihat dengan kepala dingin, bahwa anak Anda yang remaja memang belum cukup dewasa dan itulah sebabnya Anda masih membatasi ruang geraknya.

Tidak perlu takut anak membenci Anda. Anda tetap harus tegas terhadapnya. Beri dia kebebasan berekspresi dan berpendapat, selama masih tidak melanggar aturan dan norma yang berlaku. Rasa bencinya akan berganti menjadi rasa syukur setelah ia berusia dewasa dan matang belasan tahun mendatang. Menjelang usia kepala tiga, matanya akan terbuka dengan jernih dan mengerti mengapa Anda dulu ‘mengekangnya’ dan betapa malunya ia pernah bersikap irasional saat remaja. Anak pun akan semakin mencintai Anda.

(Berbagai sumber)

SHARE