Made in Korea

0
30

.Selama ini Jepang selalu menjadi acuan ketika kita membicarakan tentang inovasi dan teknologi. Ketika sebuah barang datang dengan label Made in Japan maka dengan seketika akan memiliki pasar yang cerah karena label tersebut memberikan garansi dan merepresentasi sebuah kualitas yang prima. Angin perubahan dan kemajuan juga terasa sangat kencang bertiup dari Jepang, seolah-olah semua ilmuwan dan kreator masa depan berkumpul semua di negari samurai ini. Namun dalam beberapa waktu pasca milenium baru, keadaan sedikit berubah semenjak Korea mulai berani menunjukkan taringnya.

Korea, sang negara tetangga, mengawalinya pertama kali melalui serangkaian gelombang karya seni. Para musisi dan bintang serial TV menjadi produk ekspor yang sungguh luar biasa sebagai duta di negara tetangga, dan mereka tak pernah malu-malu untuk menguasai panggung popularitas negara tetangga. Malaysia, Singapura, Indonesia, dan bahkan India mengalami gejala demam Korea, dengan korban paling parah terjadi di Jepang. Tangga lagu negara ini selama beberapa dekade telah menjadi taman bermain para musisi Korea (BoA, TVXQ, Big Bang, dan Kara), sedangkan semua remaja wanita menginginkan sosok pria sejati yang penuh sopan santun,well-raised, dan penyayang seperti sosok Yon-sama (Bae Yong Joon) dalam drama seri yang dibintanginya. Saat ini Korea (Selatan) telah menjadi salah satu dari sepuluh negara pengekspor kebudayaan terbesar di dunia, dan satu hal yang patut dicatat dari hal ini adalah keberhasilan mereka dalam memanfaatkan soft power untuk meningkatkan image di negeri tetangga. Sebuah studi baru-baru ini dilakukan di Jepang dan menghasilkan sebuah temuan yang menyatakan bahwa rata-rata persepsi dan impresi mereka terhadap bangsa Korea meningkat sekitar 42.5% pasca serangan gelombang kebudayaan Korea.

Setelah sukses mengekspor seni musik dan peran, Korea melanjutkan ekspansi mereka melalui jalur fashion. Garis desain yang sederhana, wearable,  dan paduan warna yang ceria telah berhasil menghadirkan opsi yang luar biasa bagi dominasi gaya Harajuku yang sempat mengharu-biru. Meskipun kedua negara ini sama-sama ekspresif dalam berbusana, namun ada perbedaan yang jelas diantara keduanya. Gaya berbusana penduduk Korea mengisyaratkan sebuah vibrasi yang mengingatkan pada kemeriahan acara pesta, sedangkan gaya Jepang membawa kita pada rumitnya panggung pertunjukan.

Gelombang Korea yang ketiga dilancarkan dalam bentuk berbagai inovasi konsep dan produk. Para putra bangsa Korea sudah tidak takut lagi dalam menunjukkan kreatifitas dan kejeniusan mereka dalam menanggapi perkembangan zaman. Salah satu indikator yang bisa dijadikan pijakan adalah event Red Dot Design Awards. Acara tahunan yang sudah diselengarakan oleh Jerman sejak tahun 1955 dan diikuti oleh 12,000 pendaftar dari 60 negara ini telah menjadikan Red Dot Design Awards sebagai salah satu kompetisi desain paling terkenal dan sekaligus terbesar di dunia. Penghargaan Red Dot Design Awards diberikan pada mereka yang dianggap paling mampu memberikan tanggapan terhadap berbagai isu dan tantangan yang terbagi dalam 3 kategori, yaitu product design, communication design, dan design concept. Dari 28 konsep dan produk yang ada dalam daftar Red Dot 2010: Best of The Best, sebanyak 13 buah ternyata berasal dari kreatifitas para pemuda Korea. Dari mulai inovasi mesin cuci bertabung ganda, desain botol air minum cum alat musik, hingga alat detektor untuk mengetahui jenis potensi alergi yang terkandung dalam sebuah makanan, label Made in Korea benar-benar menunjukkan gayanya.

(Berbagai sumber) 

SHARE