Mencontek Berdampak Jelek

0
28

.Semua tekanan dan rasa tidak tertarik terhadap ‘sekolah’ membuat buah hati Anda semakin malas untuk belajar. Lantas, bagaimana ia ‘memenuhi’ tuntutan Anda untuk selalu naik kelas, bahkan menjadi juara kelas? Mencontek. Itulah jalan keluar termudah sekaligus tersalah, yang sering diambil oleh anak-anak. Mencontek bisa berarti plagiarisme, menyalin pekerjaan orang lain tanpa izin sang empunya, ‘mencuci’ nilai jelek dan jawaban yang salah, dan masih banyak lagi. Ketahuilah, memiliki kebiasaan mencontek akan menumbuh kembangkan mental dan bibit seorang kriminal pada anak.

Setiap hari ingatkan si kecil agar tidak menyalin latihan-latihan soal di sekolah yang telah dikerjakan oleh temannya. Saat belajar bersama, perhatikan anak Anda. Pastikan ia ikut terlibat 100% dalam proses pengerjaan soal-soal. Bila hanya 1-2 orang yang mengerjakan dan si kecil hanya menyalin seluruh jawaban tanpa ikut berpikir, ini berarti ia sudah berhasil mencontek. Sama halnya kala menghadapi beragam pekerjaan rumah (PR). Periksa selalu isi tasnya setiap hari sebelum dan sepulang sekolah. Apa ia telah membawa lengkap semua buku yang dibutuhkan hari itu? Apa gurunya memberikannya PR? Sering-seringlah berkomunikasi seputar akademis anak dengan sang wali kelas untuk mengontrol perkembangan dan gerak-gerik si kecil. Bisa dengan mendatanginya langsung ke sekolah atau cukup via telepon.

Tanya si kecil apa pada saat memeriksa jawaban sebuah ujian bersama-sama di kelas, ia pernah dengan licik mengganti sendiri jawabannya menjadi benar, sehingga nilainya tidak berkurang? Mungkin juga pada waktu akan memberikan hasil nilai ujian yang mengecewakan untuk diperlihatkan pada Anda, dia telah mengganti nilai menjadi jauh lebih baik dari nilai sebenarnya, sehingga Anda pun tertipu?

Semua hal tidak terpuji ini dilakukan, karena si kecil tidak mau dicap bodoh dan untuk mendapatkan nilai yang bagus karena takut dimarah oleh Anda bila tidak berprestasi di sekolah. Banyak yang harus Anda luruskan di sini. Jelaskan pada buah hati Anda, bahwa mencontek, menjadi plagiat, dan peniru tidak akan membuatnya pintar. Hal ini justru akan membuatnya semakin bodoh. Bila ia ‘menunjukkan’ pada orang lain, bahwa ia sanggup mengerjakan soal-soal tersebut dengan memamerkan hasil contekannya, maka di lain kesempatan saat teman-teman sekelasnya sudah benar-benar menguasai soal tersebut, dia akan menjadi satu-satunya anak di kelas yang tidak mengerti sama sekali. Tidak seorangpun, bahkan guru, yang akan membantunya. Mereka terlanjur percaya dan menganggap bahwa si kecil sudah benar-benar bisa, seperti yang lain. Semakin sering ia menipu orang lain dan dirinya sendiri dengan berakting menjadi anak pintar, semakin ia akan tertinggal jauh dari teman-temannya.

Mencontek juga buruk untuk pembentukan karakternya. Mental pemalas dan rendah diri akan semakin mengungkungnya. Meski sebenarnya sanggup mengerjakan dengan pemikiran sendiri, anak hanya akan merasa percaya diri dengan jawabannya bila ia telah mencontek. Hal ini dapat berlanjut dan berkembang hingga ia dewasa. Bahaya!

Untuk mengatasi hal ini dan menghentikan kebiasaan mencontek si kecil, minta ia sering-sering belajar dan membaca buku pelajaran di waktu senggangnya. Terbukalah dalam menerima semua pertanyaan yang diajukannya seputar pelajaran tersebut dan usahakan selalu dapat menjawabnya. Anak harus bisa dan sanggup untuk mengakui dan bertanya kepada Anda serta gurunya, ketika ia tidak sanggup atau tidak memahami suatu pelajaran.

(Berbagai sumber)

SHARE