My Spouse Is The Biggest Rival Ever!

0
39

.Berkompetisi dalam mengejar karir dan pendapatan di perusaahaan besar kerap Anda lakukan dengan kolega-kolega lain. Sepulang dari kantor, Anda merasa sudah berada di zona aman, karena telah berada jauh dari saingan-saingan Anda tersebut. Anda salah. Saingan Anda masih tersisa satu di rumah. Orang tersebut tidak lain adalah suami atau istri Anda sendiri.

Di zaman globalisasi seperti ini, semakin banyak perempuan yang sadar akan haknya untuk bekerja dan mendapatkan penghargaan yang sama dengan laki-laki, berkat kemampuan yang dimiliki dan kontribusinya yang berarti pada perusahaan.

Perempuan ini tentu saja hanya akan cocok dengan lelaki yang mempunyai pemikiran terbuka yang sama dengannya, yakni menghargai hak perempuan untuk berkarir. Istri yang ambisius dan seorang suami yang meski tidak keberatan jika istrinya bekerja di luar rumah tetap memiliki ego laki-laki yang merasa harus selalu superior serta dominan dalam segala hal terikat dalam suatu pernikahan. Bagaimana jadinya?

Tidak perlu disangsikan lagi, keluarga yang mereka bentuk pasti akan sangat sukses dalam hal materi. Tentu saja, karena masing-masing dari mereka sebenarnya dalam hati merasa panas dan iri, ketika pasangannya menyatakan bahwa dirinya mendapatkan promosi kenaikan jabatan ataupun kenaikan gaji.

Meski tersenyum dan mengucapkan selamat, pasangan sebenarnya sebal. Dia pun akan bekerja lebih giat lagi. Bila perlu, menimba ilmu lagi hingga ke negeri orang. Istri mengambil S2, suami tak mau kalah dengan segera mengikuti program S3. Merasa tersaingi, sang istri pun mencoba mencari peruntungan bekerja di perusahaan raksasa di luar negeri. Melihat ini, suami menjadi semakin terobsesi oleh pekerjaannya hingga lebih sering menginap dan tidur di kantor untuk lembur hampir setiap hari, daripada pulang ke rumah sepulang jam kerja.

Persaingan dan ‘perang dingin’ yang terjadi di antara sepasag suami-istri ini tidak akan ada habisnya. Siapa yang terkena getahnya? Anak. Akibat terlalu sibuk memikirkan karir masing-masing, mereka melupakan anak mereka yang butuh perhatian, kasih sayang, dan kehadiran mereka sebagai orangtua di sisinya. Rumah besar yang penuh oleh perabotan mahal, serta selalu bersih akibat dirawat oleh asisten rumah tangga terasa hampa, sunyi, dan dingin akibat jarang disinggahi oleh anggota keluarga tersebut.

Hubungan Anda dengan rekan kerja pun jauh lebih harmonis dibanding hubungan Anda dengan pasangan. Siapa yang harus disalahkan di sini? Anda berdua salah. Menyedihkan, bila salah seorang di antara Anda berdua menyalahkan salah satu pihak dengan mengatakan, “Seharusnya yang mengurus rumah dan anak, kan, kamu!” Buah hati adalah hasil cinta Anda berdua dan merupakan simbol ‘tanggung jawab’ yang dibebankan pada Anda dan pasangan.

Bila Anda merasa situasi rumah tangga semakin tidak terkendali akibat persaingan karir tersebut, maka daripada saling menyalahkan, lebih baik masing-masing individu melakukan introspeksi diri dan mulai mengendalikan emosi dan nafsu untuk kepuasan batin pribadi demi keluarga.

(Berbagai sumber)

SHARE