Pertengkaran Orangtua Bukan Tontonan Anak

0
25

.Berselisih dengan pasangan merupakan hal yang wajar. Akan menjadi tidak wajar, bila hal tersebut dilakukan di depan anak-anak Anda. Memang benar, orangtua juga manusia yang dapat melakukan kesalahan, namun bila Anda tahu bila bersilat lidah dengan pasangan di depan si kecil adalah hal yang salah, mengapa tetap melakukannya?

Anak kecil adalah makhluk yang sensitif, perasa, dan memiliki daya ingat yang tinggi. Apapun yang dia lihat, rasakan, dan dengar akan selalu terekam dan tersimpan dalam ingatannya. Hal negatif seperti pertengkaran orangtua yang terjadi di masa kecil hingga dewasanya akan membuat semacam trauma psikologis padanya.

Berlindung. Itulah yang kerap dilakukan seorang anak di balik orangtuanya. Si kecil menganggap, di bawah naungan kedua orangtuanya dan berada di dalam keluarga menjadi hal teraman dan ternyaman di seluruh dunia. Semua akan berbeda saat Anda mulai berteriak, mencaci maki pasangan, menggunakan kata-kata kasar, memanggil nama pasangan dengan tidak sopan, saling menunjuk, membanting barang, bahkan main tangan terhadap pasangan di hadapan buah hati.

Secara tidak sadar, Anda telah membuat si kecil berada dalam situasi yang menyeramkan, menakutkan, dan merasa tidak aman. Tahukah Anda, akibat kepekaannya, anak cenderung bertanya-tanya dalam hati, apakah penyebab keributan yang terjadi di rumah tersebut akibat kesalahannya? Cobalah menjadi dirinya, ke mana ia harus bersembunyi saat kedua orangtuanya tidak lagi sanggup memberikan ‘perlindungan’ dan justru menjadi orang-orang yang ‘menyerangnya’ dengan segala hal negatif? Secara tidak langsung, Anda pun akan mengajarkan dan menanamkan ‘pendidikan’ untuknya, bahwa untuk menyelesaikan suatu masalah, orang harus saling menyakiti dengan kata-kata dan tindakan kasar. Dalam pikirannya, anak hanya akan mempercayai bahwa setiap keluarga pasti selalu sarat akan pertengkaran dan kekerasan, karena itulah yang selalu ia saksikan secara nyata hampir setiap hari di depan matanya sendiri.

Berhentilah berselisih paham di depan anak. Kendalikan emosi Anda. Bila merasa ada sesuatu yang tidak sepaham, tunggu hingga anak tidur atau setelah ia berangkat ke sekolah. Selesaikan baik-baik dengan ‘berdiskusi’, bukan beradu kosakata kebun binatang. Cari ruangan lain dan selesaikan masalah Anda berdua. Ingat! Membentak dan berteriak hanya akan memperkeruh suasana. Menuliskan perasaan di atas kertas, sebuah surat, atau email untuk melepaskan amarah lebih baik dilakukan terlebih dahulu, sebelum melakukan adu argumen secara langsung dengan pasangan.

Bila perlu, buatlah sebuah kode bersama dengan pasangan untuk menyatakan rasa tidak suka atau tidak setuju akan sesuatu. Misal, Anda tidak suka pasangan menonton program gulat di televisi saat anak ikut menonton, karena hal itu dirasa terlalu sadis untuk si kecil, maka Anda dapat bersiul. Siulan telah disepakati sebagai tanda untuk beranjak ke dapur dan berkompromi mengenai suatu hal di sana. Dengan melakukan hal tersebut, anak tidak perlu terusik dan terganggu mentalnya akibat pertengkaran Anda berdua. Berikan konsep nyata suatu pernikahan dan keluarga yang positif, lembut, dan penuh kasih sayang pada si kecil.

(Berbagai sumber)

SHARE