Kenapa Harus Malu?

0
48

.Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Beberapa orang cenderung ekstrovert, namun ada juga yang introvert. Sama seperti anak-anak. Banyak di antara mereka yang sangat hiperaktif dan mudah bergaul, di sisi lain, tidak sedikit pula yang pemalu.

Memakai popok, diantar-jemput, bahkan telanjang di depan orangtua mungkin sudah akan menjadi hal yang sangat memalukan bagi beberapa balita. Banyak cara yang dia lakukan saat merasa malu, seperti memerahnya muka akibat tersipu-sipu, menangis, memalingkan muka, melarikan diri secara harafiah, dan lain sebagainya.

Menurut profesor psikologi dari kampus “William and Marry” di Williamsburg, VA, bernama Janice Zeman, hal ini dikarenakan, menginjak usia kurang lebih 2,5 tahun, keegoisan seorang anak akan berkurang sedikit demi sedikit.

Ia mulai membuka diri dan memperhatikan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Ya, si kecil mulai mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan mengenai dirinya. Terlebih, dewasa ini anak mulai memahami norma-norma sosial yang berlaku.

Ia tidak mau diperhatikan karena menjadi ‘berbeda’ atau tersisih dari lingkungan. Saat-saat seperti inilah, ia akan sangat membenci situasi ketika ia melakukan kesalahan atau bahkan dipuji. Sepele, ia tidak mau menjadi pusat perhatian!

Perasaan seperti ini membingungkan bagi sang buah hati. Merasa malu menjadi beban yang sangat berat untuknya, karena ini merupakan jenis emosi yang baru dalam hidupnya. Ia tidak mengerti bagaimana cara menghadapi rasa malu.

Untuk menenangkan si kecil yang pemalu, katakan padanya, bahwa merasa malu itu tidak apa-apa dan wajar saja. Apapun yang dia rasakan, usahakan untuk selalu menunjukkan bahwa Anda tetap menyayanginya. Bila perlu, ceritakan kejadian yang pernah Anda alami saat merasa malu. Jelaskan pada anak, bagaimana Anda melewati hal tersebut, kemudian bantu dia untuk juga dapat melalui fase ‘malunya’.

(Berbagai sumber)

SHARE