Main Kasar? Tinggalkan Saja!

0
33

.Kekerasan dalam suatu hubungan pada umumnya dilakukan oleh kaum adam terhadap pasangannya. Perempuan kerap menjadi korban dalam hal ini, meski terdapat beberapa kasus yang menyatakan, bahwa sang perempuanlah yang melakukan tindak kekerasan terhadap suaminya.

Klise rasanya mendengar keluhan seorang teman atau mungkin keluhan Anda sendiri. Sambil menangis, Anda menuliskan kata-kata di atas kertas dan berkata dalam hati “Hari ini ia memukulku. Mengapa? Aku membencinya!” Itulah yang Anda katakan.

Kata-kata pun menguap begitu saja seketika pasangan menelepon atau mendatangi Anda kembali. Ia meminta maaf. “Sayang, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Enggak tahu kenapa aku mukul kamu. Mungkin aku terlalu sayang dan takut kehilangan kamu.” Mendengar kalimat manis tersebut, hati Anda pun tersentuh oleh iba. Anda yakin dan percaya bahwa ia benar-benar menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi. Perempuan cenderung berharap dan berusaha mempercayai, bahwa kebiasaan kasar pasangannya akan berhenti suatu saat nanti.

Keluarlah dari pola lingkaran kekerasan tersebut! Pasangan main tangan, ia minta maaf, dan mengulanginya lagi di kemudian hari. Selalu seperti itu! Bahkan, banyak oknum laki-laki yang pintar memainkan perasaan pasangannya dengan menimpakan kesalahan dan tanggung jawab atas kekerasan yang telah dilakukannya justru kepada korban, yakni perempuan itu sendiri. Benar ia meminta maaf, namun tidak tulus. Ia mengungkapkan perumpamaan, seandainya Anda tidak pergi dengan teman laki-laki malam itu, seandainya Anda tidak sibuk bermain dengan teman-teman kantor Anda, dan masih banyak perandaian lain, maka ia pun tidak akan memukul Anda. Dengan ini, ia berusaha membuat Anda percaya bahwa Anda pantas menerima perlakuan buruk darinya, karena Andalah yang bersalah.

Main tangan adalah suatu hal yang serius dan bukan lagi sekedar permasalahan pribadi antara dua orang, namun sudah menjadi tindak pidana yang harus ditindak lanjuti di bawah hukum yang berlaku. Waspadai tanda-tanda seseorang memiliki bakat untuk melakukan domestic violence. Bila pasangan mulai berkata-kata kasar pada Anda, mendorong, bahkan menampar, maka segera tinggalkan ia atau bersiaplah menghadapi pola kekerasan rumah tangga ke level berikutnya!

Sebagai korban, Anda harus tegas. Tidak perlu takut kehilangan dirinya. Sekedar informasi, Pasangan lebih takut kehilangan dibanding Anda. Itulah mengapa ia sampai tega berbuat kasar. Semua demi memuaskan kebutuhan jiwanya sendiri, selalu bersama Anda, bagaimanapun caranya.

Meski demikian, bukan tidak mungkin kebiasaan main tangan bisa berhenti. Semua tergantung pada ketegasan sang perempuan. Bila Anda lembek dan tidak berani meninggalkannya, maka ia akan semakin semena-mena terhadap Anda. Peringatkan dirinya untuk tidak memukul Anda lagi, bila tidak mau kehilangan Anda selamanya. Tiga kali kesempatan sepertinya sudah lebih dari cukup. Bila hal tersebut masih berlangsung, saatnya mewujudkan ancaman yang telah Anda buat sebelumnya, leaving him!

(Berbagai sumber)

SHARE