Why, Georgia, Why??

0
51

.Apa yang dilakukan oleh sebuah negara ketika sudah begitu muak dengan masa lalunya?? Mereka akan membongkar kenangan lama dan menggantikannya dengan sesuatu yang baru, yang merefleksikan sebuah harapan dan keterbukaan.

Georgia melakukannya. Bukan negara bagian Georgia yang di Amerika, melainkan sebuah negara di kawasan Eurasia yang bertetangga dengan Laut Hitam, Rusia, Turki, Armenia, dan Azerbaijan. Dua tahun setelah bentrokan berdarah dengan militer Moscow di daerah Ossetia Selatan, Presiden Georgia Mikheil Saakashvili melakukan pembalasan. Alih-alih mengirimkan rombongan prajurit dalam mesin tempur mereka, sang presiden justru mendaulat satu batalion arsitek dan mempersenjatai mereka dengan pena serta blueprint. Kini hasilnya sudah mulai bisa dilihat dan dinikmati. Gedung-gedung pencakar langit dengan rangka besi dan permukaan kacanya menghiasi langit Tsibilisi, ibu kota Georgia, dan mengubur dalam-dalam berbagai kenangan lama yang mengingatkan mereka pada era Soviet.

Kilau dan kejernihan kaca yang menghiasi dinding-dinding bangunan ini memberikan sebuah gambaran keterbukaan Georgia akan prospek ekonomi dan investasi, sedangkan rangka besi dan bajanya menguatkan semangat Georgia akan keinginan mereka untuk terus maju dan mengikuti perkembangan zaman. Dalam keberhasilan yang patut dirayakan dengan pesta dan semburan Champagne ini, Georgia dan Presiden Saakashvili tentu saja, mengucapkan terimakasih pada Michele De Lucchi, seorang arsitek dan maestro desainer produk asal Italia.

Sebuah perombakan model kehidupan urban dan tata kota yang ambisius dari seorang politikus tentu saja bukan sesuatu yang baru. Sejarah mencatat ketika di tahun 1950’an Juscelino Kubitschek meminta Oscar Niemeyer untuk membangkitkan kembali Brasilia dari puing-puingnya, Begitu juga ketika di era tahun 90’an Nursultan Nazarbayev menghamburkan jutaan petro-dollar untuk membiayai pembangunan Astana sebagai ibu kota baru Kazakhstan.

Obsesi dan ambisi presiden Georgia saat ini hanya satu, yaitu mengenyahkan semua semua bangunan yang mengingatkan Georgia pada kejamnya masa lalu. Bukti bahwa kekejaman perang tak hanya menorehkan luka di hari itu, namun juga hari-hari panjang setelahnya.

Beberapa hal yang telah dilakukan oleh Michele De Lucchi hingga dia kini dianggap sebagai salah satu pahlawan budaya Tsibilisi, antara lain:
1. Membangun sebuah istana kepresidenan baru dan mengisinya dengan Produzione Privata, rangkaian perabot hasil imajinasinya yang memberikan suasana segar bagi pemerintahan yang tegang
2. Membangun Interior Ministry, gedung pemerintahan yang langit-langitnya berhiaskan panel kayu dan facade berlapis kaca. Kehangatan yang dipancarkannya juga berfungsi mengobati trauma paska era Perang Dingin
3. Membangun jembatan yang merupakan jalur pedestrian berbentuk lengkung bernama Peace Bridge di atas Sungai Mtkvari. Jalur ini menghubungkan kawasan lama yang penuh sejarah dengan daerah baru yang penuh harapan.

Selain tiga proyek di atas, setidaknya masih ada 10 proyek lagi yang ditangani oleh De Lucchi dalam rangka mempermanis wajah Georgia.  Kabar baik berhembus dan menambah semangat serta keceriaan Georgia ketika Donald Trump menyatakan ketertarikannya untuk meramaikan keadaan dengan membangun salah satu Trump Tower-nya yang ikonik di Tsibilisi

(Berbagai sumber) 

SHARE