Anak Mama Jangan Diajak Berkeluarga!

0
40

.Mencintai laki-laki yang lembut, berorientasi pada keluarga, dan mencintai orangtuanya sudah jarang ditemukan dewasa ini. Hal tersebut menjadi langka dan membuat kesan ‘seksi’ bagi para perempuan yang melihatnya.

Tak sejalan dengan ‘teorinya’, mengencani ‘anak mama’ justru akan menjadi bumerang bagi Anda, kaum hawa. The thing is, pasangan Anda mengalami ‘mother complex‘ . Sejak kecil, ia merasa sangat ketergantungan dengan ibunya.

Semangat hidup dan sumber cahaya mereka berasal hanya dari sang ibu. Tak heran, jika setelah menikah Anda akan sering berebut perhatian dan akhirnya kalah dari orang yang pernah melahirkannya. Seberapa besar pun perjuangan yang dilakukan, Anda hanya akan menjadi selingan. Peran utama hanya layak diberikan pada ‘ibu’.

Semakin mengesalkan, karena dalam mengahadapi berbagai persoalan pribadi dalam rumah tangga Anda berdua, suami selalu menyertakan sang ibu. Alasannya hanya satu, ia tidak mampu bersikap dan menentukan keputusan tanpa saran dan masukan dari ibunya, meski pasangan telah menginjak usia 40 tahun!

Siapa yang tahan dengan sikap kekanak-kanakannya tersebut? Jangan dikira masalah selesai dan terpecahkan, ketika ibunya meninggal. Sikap ‘konyol’ pengidap mother complex ini justru akan semakin menjadi-jadi. Persiapkan diri Anda untuk melihatnya berubah menjadi ‘mayat hidup’. Semangat hidupnya menghilang, sinar di matanya redup, dan senyuman menjadi ‘ukiran’ langka di wajahnya. Tapi Anda sebagai istri masih setia mendampingi dan mendukungnya setiap hari, begitu protes Anda dalam hati. Sorry to say, Anda tidak masuk dalam hitungan.

Kesepian. Tak berguna. Mungkin itu yang akan dirasakan oleh istri para mother complex. Kehadiran dan kontribusi Anda sebagai teman hidup sama sekali tak dianggap oleh pasangan. Bahkan ketika Anda selalu ada dan hadir untuknya di kala dirinya mendapat masalah, tetap saja, ibunyalah yang pertama kali dicarinya. Berulang kali Anda membantu dan mendoakan kesuksesannya, namun sayang, pasangan justru berujar, “Hanya berkat ibuku sajalah, aku bisa berhasil seperti sekarang ini.” There is never you in his life.

Lelaki ‘anak mama’ mungkin akan lebih cocok dengan perempuan yang jauh lebih tua. Perempuan ini bisa lebih sabar dalam menghadapi sikap kekanakannya. Sifat kedewasaan yang ngemong akan membuat lelaki tersebut betah, layaknya berada di bawah ‘ketiak’ ibunya. Meski demikian, hal itu tidak menjamin, ‘pemujaan’ terhadap sang ibu dapat menghilang.

(Berbagai sumber)

SHARE