Feromon Bukan Senjata Seks!

0
203

.Feromon akan memicu hasrat seksual lawan jenis kepada Anda. Really? Mungkin zat tersebut hanya sekedar mitos. Mungkin ‘kekuatannya’ juga tidak seefektif itu. Mungkin feromon benar senjata yang ampuh untuk menaklukkan pasangan. Mungkin. Feromon bekerja melalui daya penciuman, bukan layaknya agen farmalogis. Jangan tertipu oleh banyak iklan produk berbasis feromone yang menjanjikan munculnya dan menguatkan daya tarik seksual Anda, setelah menggunakannya. Parfum, misalnya. No, babe.

Sayangnya, kenyataannya tidak seindah itu. Feromon adalah zat kimia yang dikeluarkan oleh sebuah organisme, yang dapat membuat organisme dari spesies yang sama merespon melalui cara tertentu. Contoh, siput betina memancarkan zat kimia yang membuat siput jantan bertingkah laku sedemikian rupa, sebut saja, siput jantan tersebut ‘tertarik’ dan akhirnya mendatangi kebun. Selama zat kimia tersebut hanya memiliki efek terhadap sang siput jantan dan tidak berpengaruh pada semut atau anak kecil yang sedang menyiram bunga di taman itu, maka zat ini bisa dianggap sebagai feromon.

Reaksi ditimbulkan oleh aroma feromon dan bukan munculnya sebuah aksi kimia yang disebabkan oleh komposisi zat tersebut. Contoh, tentu Anda akan sama-sama bereaksi terhadap bau toilet umum yang kotor dan terhadap semprotan merica. Toilet umum menyerang Anda, karena aroma tak sedapnya, sedang semprotan merica melakukan serangan dengan menimbulkan luka fisik. Beda, kan? Feromon jelas seperti toilet umum tersebut, tapi dalam arti positif.

Selama ini feromon selalu diatikan dalam konsep tunggal yang belum terbukti, yakni menciptakan hasrat seksual antar manusia. Faktanya, sebagian besar penelitian menyebutkan, bahwa zat tersebut lebih berfungsi dan berperan dalam rantai makanan. Jamur dan ganggang memberikan reaksi langsung atas feromon untuk melengkapi spesies untuk kepentingan reproduksi. Demikian pula serangga. Semut, misalnya. Binatang ini menggunakan feromon tidak hanya untuk menarik perhatian pasangan, namun juga untuk memimpin semut-semut lain untuk bersama-sama menuju sumber makanan.

Aroma feromon Anda tetap akan mempengaruhi pasangan, bila Anda lama tidak mandi, tentu saja. Tapi, sekali lagi, beberapa ilmuwan menyatakan, bahwa manusia dan beberapa hewan mamalia lainnya tidak memproduksi feromon dalam tubuhnya. Kalaupun tubuh memproduksi, zat tersebut tidaklah efektif, karena sudah sejak lama manusia tidak dapat mendeteksi keberadaan zat ini.

Richard L. Doty, Ph.D., direktur Smell & Taste Center, universitas Pennsylvania di Philadelphia menyatakan, “Saya sudah sering berkata pada sejumlah orang (orang-orang di bisnis parfum), bahwa pekerjaan mereka hanyalah omong kosong.” Richard bahkan membuat sebuah buku berjudul “The Great Pheromone Myth” (Mitos Besar Mengenai Feromon). Buku ini melurukan banyak persepsi salah mengenai arti dan fungsi feromon. Sebenarnya, banyak peneliti telah mengetahui kebohongan mengenai mitos tersebut, namun mereka tetap menjalankan bisnis dengan menciptakan imej yang salah tentang feromon dan mereka mendapatkan banyak keuntungan dari mitos tersebut.

Ingat, Anda bukanlah semut. Anda tidak akan seperti semut yang dapat tertarik atau mengikuti lawan jenis hanya dengan mencium aroma feromon yang keluar dari tubuhnya. Nilai daya tarik sebuah parfum bukanlah dari unsur seksinya, namun lebih condong kepada kenikmatan dan harum yang diciptakannya. Aroma parfum ataupun feromon tidak akan menimbulkan libido. Sikap dan tingkah laku menawan Anda yang tercipta atas kepercayaan diri setelah menggunakan parfumlah yang membuat lawan jenis tertarik dan timbul hasrat seksual. Tentu saja, karena memiliki tubuh yang harum – dengan semprotan parfum – Anda terdorong untuk tampil lebih seksi ataupun semakin maskulin dengan menata rambut, pakaian, dan segala hal yang ada pada fisik Anda.

Berhentilah memuja feromon. Start acting for real to get him or her!

(Berbagai sumber)

SHARE