Ini Tjong A Fie, Bung!

0
34

.Di masa lalu, Medan memiliki peran dan posisi tersendiri dalam sejarah bangsa Indonesia. Kota yang sudah berdiri sejak abad ke-16 ini masih menyisakan berbagai kenangan indah akan masa lalunya, salah satunya adalah deretan bangunan megah di kawasan Kesawan, sebuah daerah di Kecamatan Medan Barat.

Setelah kedatangan orang-orang Tionghoa dari Malaka dan Tiongkok di tahun 1880’an, wajah kawasan ini berubah drastis dari areal persawahan menjadi sebuah kampung Pecinan. Suatu ketika terjadi sebuah kebakaran hebat yang melanda Kesawan dan menghanguskan hampir semua rumah kayu yang didiami oleh warga Tionghoa di daerah ini. Semenjak kejadiaan naas itu, mereka menghiasi pinggir jalan raya dengan bangunan ruko dua lantai yang sebagian masih tersisa hingga kini. Jalan Ahmad Yani yang merupakan jalan tertua di Kesawan dan bahkan Medan, adalah salah satu tempat terbaik bagi Anda untuk menikmati nostalgia yang indah tentang kota tua Medan.

Ada banyak sekali bangunan megah bergaya kolonial di daerah ini, antara lain bekas kantor Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij, gedung South East Asia Bank, gedung PT. London Sumatera Tbk, gedung Bank Modern, bekas gedung The Netherlands Shipping Company dan kantor Rotterdam’s Lloyd, bekas gedung Harrison & Crossfield, dan Cafe Tip Top yang telah memulai usahanya dari zaman kolonial dulu kala.

Tapi salah satu bangunan yang paling menarik, dan mungkin paling terkenal, di Kesawan adalah Tjong A Fie mansion, sebuah rumah megah 40 kamar yang didirikan oleh salah satu pria terkaya di Asia Tenggara era 1900’an. Kediaman Tjong A Fie benar-benar indah. Rumah dua lantai di tepi Jalan Ahmad Yani ini mempunyai penampilan yang sangat anggun, dengan menggabungkan gaya arsitektur Cina, Melayu, dan Victoria. Bentuk bangunannya sendiri hampir mirip dengan kediaman sepupunya, Cheong Fatt Tze, di Penang, Malaysia.

Nama Tjong A Fie memiliki keterikatan yang kuat dengan sejarah dan masa lalu Sumatera Utara, terutama kota Medan. Bakatnya dalam berwirausaha dan wibawanya membuat sosok Tjong A Fie menjadi sangat kaya raya dan terpandang, hingga mampu menjalin persahabatan dengan Sultan Deli dan para pejabat kolonial Belanda.

Tjong A Fie membangun rumah kediamannya di tahun 1895 dan baru selesai di tahun 1900. Proses pembangunan selama 5 tahun menghasilkan sebuah bangunan yang sangat megah, kaya akan detail, dan menggabungkan berbagai unsur budaya dengan sangat sempurna. Pengaruh Melayu terlihat dari deretan pintu dan jendela mansion ini, serta warna hijau dan kuning yang dipilih untuk menghiasi dinding bangunannya, sedangkan gaya megah Victoria sepenuhnya diaplikasikan untuk lantai dua. Tentu saja Tjong A Fie tak melupakan budaya leluhurnya. Dia menghiasi kediamannya dengan berbagai ornamen, ukiran, lukisan, dan hiasan di langit-langit ruangan yang menyiratkan atmosfer budaya Cina. Memasuki kediaman Tjong A Fie benar-benar menghadirkan sebuah pengalaman yang menakjubkan, rasanya seperti menaiki mesin waktu yang akan membawa Anda kembali ke 100 tahun yang lalu.

Kini semua orang dapat menikmati dan mengenal rumah megah serta sejarah Tjong A Fie karena bertepatan dengan hari mengenang perayaan ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150, pada tanggal 18 Juni 2009 yang lalu kediaman indah ini dibuka untuk umum dengan nama Tjong A Fie Memorial Institute, atau Tjong A Fie Mansion. Tjong A Fie dan kediamannya hampir sama seperti Kopi Sumatra. Mereka sama-sama memberikan memori yang indah dan sekaligus menjadi salah satu bagian yang memperkaya sejarah kehidupan dan wisata Indonesia.

(Berbagai sumber) 

SHARE