Haruskah Mengorbankan Pekerjaan Demi Pasangan?

0
142

.Tidak semua perempuan merasa ‘harus’ mendukung pekerjaan suaminya. Bayangkan jika masing-masing dari Anda memiliki pekerjaan menjanjikan dan karir yang sedang dirintis, tak lama menjalin hubungan, pasangan melamar.

Pernikahan telah berlangsung. Sekarang, budaya timur ‘memperkosa’ Anda untuk melepaskan hak-hak berkarir dan setara dengan suami dalam hal pekerjaan demi keutuhan keluarga. Ya, setidaknya seperti itu kira-kira gambaran yang kerap terjadi dan dialami para istri di negara kita ini.

Tatty Murnitriati, istri ketua umum Aburizal Bakrie mungkin menjadi salah satu contoh perempuan yang belum terpikir melepaskan karir untuk mendukung karir suaminya – Aburizal Bakrie – atau yang akrab dipanggil Ical (ketua umum partai Golkar). Meski rumor Ical mencalonkan diri menjadi Presiden pada 2014 mendatang sudah santer terdengar dan poster ‘Aburizal Bakrie for President’ sudah dipasang di beberapa sudut jalan Kota Bandung, Tatty belum terpikir untuk mendukung jika suaminya menjadi Presiden pada 2014 mendatang.

“Saya belum terpikirkan seperti itu. Karena saya berpikir berbuat kebaikan tidak harus menjadikan seseorang istri presiden atau menjadikan istri menteri,” ujar Tatty.

Apakah Tatty dan perempuan lain di negara ini akan dianggap masyarakat sebagai istri yang tidak berbakti dan egois, karena tidak bersedia mendukung karir pasangan serta tidak mau melepaskan pekerjaan sendiri demi mengikuti suami berpindah-pindah kota sesuai perintah atasannya?

Bila dibalik, tentu tidak akan menyenangkan pula ketika seorang laki-laki memutuskan tidak bekerja dan meminta Anda seorang yang mencari uang. Sepertinya arti pernikahan dimaknai sangat dangkal di sini. Tanggung jawab uang dan anak – misal – diserahkan kepada satu pihak saja dan hanya berdasarkan gender.

Satu hal yang perlu diingat, bahtera rumah tangga adalah hasil jerih payah dua orang. Keduanya mempunyai peranan dan tanggung jawab yang sama besar di sini, apapun betuknya. Tinggalkan ego masing-masing dan mulai berpikir rasional demi kebahagiaan keluarga.

Pernikahan bukanlah ajang ‘membunuh’ pribadi seseorang, namun wadah untuk saling melengkapi dan bahu membahu dengan menyingkirkan keegoisan. Tetap hargai hak-hak asasi pasangan demi terwujudnya keluarga yang kokoh dan kuat dalam ikatan cinta.

(Berbagai sumber)

SHARE